2.513 Warga Lobar Diestimasi Terjangkit TBC

Sosialisasi TBC yang digelar pihak desan dengan pihak STIP bersama dewan Dapil Gunungsari-Batulayar, pada awal pekan ini, di Sesela, Gunungsari. (Inside Lombok/Istimewa).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Dari data yang dimiliki Dinas Kesehatan, ada sekitar 2.513 jiwa warga Lobar yang diestimasi terjangkit TBC. Namun dari data itu, yang berhasil terdeteksi baru sekitar 763. Gunungsari disebut menjadi daerah dengan penularan kasus terbanyak di Lombok Barat.

Sehingga pihak Desa bersama pihak NGO yang terkait dengan penanganan penularan penyakit itu gencarkan sosialisasi untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengantisipasi tingkat penularan. Bahkan pihak Stop TB Partnerhsip Indonesia (STIP) gencar merekrut kader-kader yang dapat membantu masyarakat untuk lebih dini mengenali gejala penyakit tersebut. Nantinya para kader ini pun akan bertugas untuk mendampingi warga yang terjangkit TBC di kawasan itu.

Dalam hal ini, desa Sandik dan Sesela dijadikan sebagai lokasi percontohan nasional untuk penanganan eliminasi TBC oleh STIP.

Senior Program Manajer STIP, Lukman Hakim mengungkap bahwa Indonesia saat ini masuk dalam urutan negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia dengan tingkat kematian sebanyak 96.000 jiwa. Dan menempati urutan kedua setelah India.

“Berdasarkan data WHO pada tahun 2020, penderita TBC ini juga sebagian besarnya masih usia produktif” ujarnya dalam agenda sosialisasi yang dilaksanakan di Sesela, awal pekan kemarin.

“Di Lombok Barat sendiri, tahun 2020 itu penderita TBC diprediksi berjumlah 2.513 orang, tapi yang terdeteksi itu baru 763 orang. Jadi yang dikhawatirkan, kasus yang belum terdeteksi ini yang berpotensi akan menularkan pada masyarakat yang lain” bebernya.

Ia menuturkan bahwa faktor yang turut berpengaruh terhadap tingginya kasus TBC itu, lantaran banyak penderita yang tidak mau berobat. Hingga ada penderita yang justru putus berobat di tengah jalan. Termasuk dalam hal ini juga berkaitan dengan masih kurangnya perhatian masyarakat terhadap penularan TBC itu di lingkungannya.

“Desa juga memiliki peran penting untuk melakukan pendekatan terhadap masyarakat. Untuk mendeteksi awal penderita dan mengawasi mereka berobat hingga tuntas” tegasnya.

Sehingga pihaknya membentuk desa siaga TBC. Dengan langkah awal memberikan sosialisasi dan merekrut kader yang bisa membantu mengeliminasi penanganan TBC di kawasan itu.

Kepala Puskesmas Sesela, Rusman Efendi mengungkapkan bahwa di wilayah kerjanya itu, terutama wilayah Midang dan Jatisela, pada tahun 2020 lalu ada 109 orang yang diestimasi menderita TBC, tapi baru ditemukan empat orang.

“Lalu tahun ini (2021) dari awal Januari hingga Maret, ada 6 kasus TBC yang terdeteksi” ungkapnya.

Sehingga ia mengapresiasi pemilihan desa Sesela sebagai percontohan nasional untuk eliminasi penanganan TBC ini.

Anggota DPRD Lobar Dapil Gunungsari-Batulayar, Faedullah menyebut, Penularan TBC ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah, padhal angka penularan dan kasus kematiannya jauh lebih berbahaya dibanding dengan covid-19 saat ini.

Namun, kata dia, karena penularan penyakit ini sumbernya dari bakteri, maka penularannya tidak sepesat penularan yang disebabkan virus corona yang menjadi pandemi global saat ini. Tetapi, diakuinya, data tingkat kematian akibat TBC ini di Indonesia, kasusnya  peringkat kedua setelah kangker.

“Apalagi di Lombok Barat, angka estimasi warga yang tertular TBC ini sekitar 2.513 orang. Sedangkan yang baru ditemukan masih sekitar 700 orang, artinya masih ada sekitar 2000 orang belum teridentifikasi” paparnya.

Sehingga ia pun mendukung program perekrutan kader untuk antisipasi makin maraknya penularan TBC yang akan dijalankan oleh STIP tersebut. Ia sebagai anggota legislatif memberi intervensi terhadap Pemda supaya dapat mendukung pelaksanaan program tersebut dengan dapat mengalokasikan anggaran khusus untuk penanganan penularan TBC tersebut.

“Perlunya penanganan TBC ini mendapat perhatian dari Pemda, sehingga perlu adanya Perda juga untuk penanganan penyakit ini melihat tinggi kasusnya termasuk di Indonesia” tegasnya.

Ia pun berencana akan mengarahkan program aspirasi untuk membantu penanganan kasus TBC ditingkat desa. Kata dia, bila itu tidak bisa masuk dalam anggaran perubahan tahun ini, maka itu akan dimasukkannya dalam APBD 2022 mendatang.