300 Hektare Lahan Pertanian Terindikasi Kekeringan di Lotim Mendapat Dana Stimulus

Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Lotim, Lalu Fathul Kasturi, saat ditemui di ruangannya, di Selong, Senin (10/08/2020). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi).

Lombok Timur (Inside Lombok) – Dampak musim kemarau, beberapa ratusan hektare lahan pertanian di Lotim terancam kekeringan. Meminimalisir dampak tersebut, Dinas Pertanian berikan stimulan kepada para petani sesuai Program Perubahan Dampak Iklim (PPDI) dari BPTP Provinsi NTB.

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian Lotim, Lalu Fathul Kasturi mengatakan dalam membantu masyarakat dalam meminimalisir dampak kekeringan. Diharapkan para petani yang terindikasi terdampak kekeringan melakukan pompanisasi penyiraman lahan pertanian mereka.

“Setiap petaninya akan kita berikan bantuan stimulan berupa uang bensin untuk pompanisasi sejumlah Rp200.000 per hektare,” ujarnya saat ditemui di ruangannya, Senin (10/08/2020).

Lahan pertanian yang banyak terindikasi kekeringan di beberapa wilayah yaitu, Lotim bagian selatan, Sambelia, Wanasaba, dan Pringgabaya.

“Selain kecamatan tersebut, ada juga di Sawilayah lainnya. Namun, tidak sebanyak yang di kecamatan itu,” katanya.

Pemberian stimulus berupa uang tunai tersebut akan masyarakat gunakan untuk membeli bahan bakar untuk alat pompa. Pompanisasi bisa dilakukan dengan memompa sumur bor yang sudah ada agar bisa mengairi lahan pertanian.

Intensitas cuaca yang begitu panas dan tidak menentu, para petani diimbau agar tidak mengubah pola tanamnya agar para petani tidak mengalami gagal panen.

“Air yang sangat minim membuat petani khawatir untuk mulai bertanam terlebih lagi dengan padi. Namun masyarkat tidak boleh merubah pola tanamnya,” jelasnya.

Dikatakan Fathul, lahan pertanian yang terindikasi kekeringan di wilayah Lombok Timur mencapai 300 hektare dan semuanya akan diberikan bantuan stimulus.

Selain itu, pihak Distan telah membangun sumur bor sebanyak 10 sumur di beberapa lokasi, hal tersebut untuk memudahkan petani untuk melakukan pompanisasi.

“Adapun untuk satu sumur bor, petani bisa menggunakannya untuk mengairi sawah seluas lima hektare,” tutupnya.