70 Persen Kamar Hotel di Kawasan Senggigi Sudah ‘Dibooking’ untuk Malam Tahun Baru

104
Kadispar Lobar, H. Saepul Akhkam, saat ditemui di kantornya, beberapa waktu lalu. (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Menjelang libur tahun baru, 70 kamar hotel di kawasan Senggigi sudah dibooking. Pemda pun tetap mempersiapkan langkah antisipasi dengan memberlakukan pembatasan kuota pengunjung di tiap lokasi wisata dan hiburan dengan mengutamakan protokol covid-19.

Tetapi diharapkan Dispar, jangan sampai hal itu justru mematikan usaha masyarakat.

“Dari informasi yang saya terima, semua hotel di Senggigi itu, rata-rata sudah terbooking itu di atas 70 persen untuk malam tahun baru” ungkap Kepala Dispar Lobar, H. Saepul Akhkam, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (16/12/2020).

Pemesanan kamar hotel itu tidak hanya dilakukan oleh wisawatan dari dalam daerah, tetapi juga wisatawan dari luar daerah.

“Informasinya banyak juga orang luar yang ingin berlibur dan menikmati malam pergantian tahun di Senggigi” bebernya.

Sehingga di satu sisi, hal tersebut dinilai dapat menjadi angin segar bagi pariwisata NTB secara umum. Terlebih di tengah upaya survive para pelaku usaha pariwisata di tengah pandemi yang terjadi saat ini.

“Karen ini angin segar, tentu jangan sampai terganggu dan mengganggu stabilitas penanganan covid-19” tegas Akhkam.

Pihaknya pun saat ini tengah menghitung kapasitas maksimal di masing-masing tempat hiburan dan pariwisata yang ada di Lombok Barat, terutama Senggigi. Karena ketika pelaku usaha pariwisata dan hiburan akan menggelar acara, maksmial kapasitas yang bisa diisi wisatawan tidak boleh lebih dari 50 hingga 70 persen dari kapasitas lokasi.

Karena penyelenggaraan acara, baik yang reguler yang akan dilakukan para pelaku usaha harus mematuhi protokol covid-19. Yang mana bila ditemukan pelanggaran, maka pihak berwajib akan mengambil tindakan tegas untuk melakukan pembubaran.

Namun, dirinya tidak bisa memprediksi akan seramai apa kunjungan wisatawan ke Senggigi pada liburan tahun baru nanti. Bahkan ia menyebut, bahwa bisa saja tidak akan kalah sepi dengan tahun sebelumnya, sesaat setelah Lombok diguncang bencana gempa.

Kendati demikian, Pemda dan pihak terkait lainnya baik dari TNI-Polri, kata Akhkam, tetap melakukan upaya antisipasi keramaian di lokasi wisata dan hiburan dengan melakukan pembatasan kuota dan pemantauan di tiap-tiap lokasi.

“Kita melakukan earli warning system, tapi pengalaman tahun kemarin setelah kita lewat gempa, covid belum ada, tapi kunjungan sepi” ketusnya.

“Oke, sekarang ada pembatasan, tapi jangan juga mematikan usaha masyarakat” harap Kadispar Lobar ini.

Karena menurut dia, Senggigi tidak boleh sepi. Apabila kawasan di Senggigi sepi, bisa berpotensi buruk dengan bisa saja meningkatnya angka kriminalitas di sana.