Atasi Harga Anjlok, Semua Hasil Panen Jagung Petani Dipastikan Terserap

43
Ilustrasi Jagung petani yang siap panen (Inside Lombok/ist)

Mataram (Inside Lombok) – Anjloknya harga jagung banyak dikeluhkan petani. Guna mengantisipasi harga semakin turun, Pemprov NTB memastikan semua produksi jagung milik petani akan terserap. Termasuk lewat pabrik pakan di luar daerah yang akan membeli jagung NTB.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB, Muhammad Riadi mengatakan kepastian ini berdasarkan hasil pertemuannya dengan Dirjen Tanaman Pangan dan jajarannya di Jakarta belum lama ini. Dari hasil rapat dengan tersebut ditetapkan semua jagung petani akan diserap.

Nantinya ada PT Seger Agro Nusantara akan menyusul membeli jagung petani dari PT DNA. Dengan pembelian jagung petani pada harga Rp4.400 per kilogram (kg). Gudang pun sudah disiapkan di Kecamatan Woja dan Pekat.

“Sumatra dan Jawa masih butuh pasokan jagung dari NTB. Bahkan, tim dari Global Wakaf juga sudah turun ke Sumbawa,” ujar Riadi, Kamis (19/5).

Berdasarkan data Distanbun NTB, perkiraan produksi jagung 2022 sebanyak 1.618.588 ton dengan luas lahan 258,210 hektare (ha). Namun, realisasi produksi jagung hingga Sub Round II 2022 (Januari-Juli) baru mencapai 147,773 ton dengan luas lahan 26,402 ha.

“Melihat mulai banyak yang beli jagung NTB, harga jagung di tingkat petani sudah naik. Per tanggal 17 Mei 2022, rata-rata harga jagung kisaran Rp4.000-4.900 per kg. Dompu misalnya, harga yang semula Rp3.500 per kg kini naik Rp500 menjadi Rp4.000 kg dan di Sumbawa Rp4.450 per kg,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Dinas Perdagangan NTB, Endang Sri Wahyuni menambahkan pemerintah sudah berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan pengolahan dan mereka siap untuk membeli dan menyerap jagung-jagung di NTB untuk memasok ke Pulau Jawa.

“Dari Dinas Perhubungan NTB akan membantu dari segi angkutan darat maupun angkutan laut,” katanya.

Meski Dinas Perdagangan NTB tidak bisa mengintervensi fluktuasi harga jagung, tetap diupayakan agar jagung petani terserap untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Dari penyerapan diharapkan para produsen pakan ternak sudah mulai bergeliat akan menyerap jagung sebagai bahan baku pakan ternak.

“Apabila produksi sudah berjalan sesuai dengan kebutuhan atau permintaan pasar maka penyerapan terhadap jagung itu akan besar,” imbuhnya. (dpi)