Bandara Lombok Diprediksi Merugi Lagi Tahun Ini

Pesawat parkir di Bandara Lombok, Minggu (24/10/2021). (Inside Lombok/Ida Rosanti) 

Lombok Tengah (Inside Lombok) -Bandara Lombok diperkirakan akan kembali merugi di 2021 akibat pandemi Covid-19. Bahkan kerugian tersebut diprediksi akan lebih besar dibanding kerugian tahun lalu yang mencapai Rp66 miliar.

“Kalau rugi kami pasti rugi. Lebih besar dari tahun kemarin kerugiannya,” ujar General Manager PT. Angkasa Pura I Bandara Lombok, Nugroho Jati, Minggu (24/10/2021).

Target pendapatan yang sudah direncanakan tahun ini pun dipastikan sulit tercapai. Mengingat jasa transportasi di bandara sangat tergantung dengan mobilitas penumpang. Sementara kondisi saat ini, keberangkatan maupun kedatangan penumpang di bandara belum meningkat signifikan.

“Sekarang ini pergerakan penumpang di Bandara Lombok rata-rata 3.500 orang per hari. Itu setelah kelonggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Memang ada peningkatan dari bulan sebelumnya, seperti bulan September itu hanya seribuan orang dengan 36 pesawat,” jelasnya.

Apalagi, saat ini syarat masuk ke NTB melalui Bandara Lombok juga diperketat. Di mana, setiap penumpang pesawat kini diharapkan melakukan tes RT-PCR sebagai syarat untuk terbang maksimal dua hari sebelum keberangkatan, baik bagi penumpang yang telah vaksin dosis pertama maupun dosis kedua.

“Sehingga kita belum mengetahui pasti kondisi ke depan dengan adanya ketentuan syarat dua kali vaksin dan PCR. Apakah nanti ada perubahan (jumlah penumpang) atau tidak, ini kita masih lihat sampai dua hari kedepan,” katanya.

Di satu sisi, PT Angkasa Pura juga sudah merampungkan sejumlah proyek pengembangan bandara untuk mendukung event internasional di Mandalika. Berbagai proyek tersebut di antaranya perluasan terminal penumpang, parkir pesawat, perpanjangan runway, dan juga peningkatan fasilitas kargo.

Nilai seluruh paket proyek tersebut mencapai Rp1 triliun. Dengan terus-menerus merugi, pengembalian modal atas pengembangan proyek bandara yang dipinjam dari lembaga perbankan tersebut diperkirakan akan sulit dilakukan.