Bangunan SD Padak Guar Hampir Rubuh, Guru Bersyukur Murid Tak Belajar di Sekolah

Perjuangan Zohrah mengajar anak didiknya, di Sambelia, Sabtu (07/11/2020). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi).

Lombok Timur (Inside Lombok) – Zohrah, salah seorang guru yang mengajar di salah satu Sekolah Dasar (SD) Padat Gak di Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok. Selama 19 tahun, Zohrah telah mengabdikan dirinya untuk mengajar di sekolah itu.

Sejak mewabahnya Pandemi Covid-19 di Lotim, ia diharuskan untuk melakukan proses pembelajaran dengan cara mengunjungi rumah anak didiknya. Jarak tempuh yang jauh untuk menemui anak didiknya tidak mematahkan semangatnya dalam memberikan pengajaran kepada anak negeri ini.

“Mengajar dengan cara mengunjungi rumah siswa merupakan cara yang paling efektif saat ini, meskipun apa yang saya lalui cukup berat,” ujar Zohrah kepada Inside Lombok, Sabtu (07/11/2020).

Cuaca terik sangat terasa di lokasi SDN 2 Padak Guar Kecamatan Sambelia itu. Ditambah lagi posisi sekolah yang berdampingan dengan pembangkit listrik tenaga uap yang membuat hawa panas sangat berbeda.

Dari kejauhan, terlihat Zohrah sedang mempersiapkan kebutuhan mengajarnya, berupa papan tulis putih berukuran kecil dan tas jinjing berisi buku ajar anak. Itu menjadi senjata mengajar di tengah Pandemi.

Zohrah memceritakan aktivitasnya mengajar di tengah Pandemi dilakukan secara keliling dari rumah ke rumah. Kegiatan tersebut harus dilakukan agar para siswanya tidak tertinggal mata pelajaran. Terlebih bagi para siswa kelas enam yang akan menempuh pendidikan selanjutnya.

“Rasa lelah tidak bisa kita hitung, akan tetapi rasa ikhlas itu yang membuat kita terasa mampu mengerjakannya,” ucapnya.

Zohrah merupakan satu dari delapan guru di SDN Padak Guar yang menjalankan aktivitas mengajar secara keliling. Pandemi merupakan bencana sekaligus berkah bagi dirinya. Jika Pandemi tidak ada, sebanyak 200 siswa terpaksa akan belajar di gedung sekolah yang hampir rubuh akibat bencana gempa yang menimpa kawasan Sambelia tiga tahun silam.

“Jika kita paksakan sekolah tatap muka juga tidak akan mampu menampung jumlah siswa, apalagi kita melaksanakan proses mengajar di bawah naungan sekolah yang hampir rubuh,” tuturnya.

Zohrah menceritakan, hingga saat ini SD Padak Guar belum tersentuh bantuan sama sekali dari pemerintah untuk direnovasi. Pihaknya pernah dijanjikan untuk mendapatkan bantuan namun sampai saat ini belum terealisasi.

Sementara itu, kendala saat mengajar keliling yang dirasakan para guru SDN 2 Padak Guar ini yaitu jarak tempuh mengajar keliling yang sangat jauh, kurang lebih akan melalui jarak sekitar lima kilometer. Hal tersebut nampak biasa.

Zohrah yang sehari-harinya membawa sepeda motor juga tidak jarang mengantar guru lainnya untuk berangkat mengajar ke rumah siswa lainnya. Lantaran sekolah hanya mampu menyediakan satu sepeda motor untuk ojek para guru yang tidak memiliki kendaraan pribadi.

Zohrah berharap agar Pandemi Covid-19 cepat berlalu dan sekolah yang ditempati segera mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah. Sehingga para siswa di sekolah tersebut dapat belajar seperti sekolah pada umumnya, masalah di SDN 2 Padak Guar bukan hanya persoalan bangunan, akan tetapi keterbatasan guru juga menjadi salah satu kendala.

“Kita di sini mengajar sebanyak 200 siswa, dan hanya delapan orang tenaga pendidik yang berstatus honorer, dua sisanya berstatus honor SK bupati dan SK sekolah. Semoga ke depan kita lebih diberdayakan,” tutupnya.