Belum Ada Kepastian Jadi Merchandise MotoGP, UMKM Merasa MGPA PHP

Chief Strategic Communication Officer MGPA Happy Harinto saat melakukan evaluasi terhadap produk-produk unggulan UMKM Lombok Tengah yang telah disepakati akan jadi merchandise MotoGP di Kantor Bupati. (Inside Lombok/dok)

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Lombok Tengah merasa bahwa Mandalika Grand Prix Association (MGPA) sebagai Pemberi Harapan Palsu (PHP). Sudah sering mereka dilatih desain produk dan juga pengenalan produk. Namun belum ada kepastian apakah produknya akan menjadi merchandise.

Bahkan, produk-produk mereka juga ada yang dibawa ke Jakarta sebagai sample. Namun, sampai saat ini belum ada legalitas maupun kepastian apakah produknya akan jadi merchandise MotoGP.

“Kalau desain sudah disepakati semuanya. Berkali-kali pertemuan saja. Tapi belum mendapatkan persetujuan dari sana. Alasannya harus dipresentasikan di Jakarta dan sebagainya,”kata Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Lombok Tengah, H. Ikhsan, Selasa (8/6/2021) di Praya.

Hal ini menjadi keluhan dari pelaku UMKM di Lombok Tengah. Karena mereka merasa digantung. Disebutkan, ada tujuh produk unggulan Lombok Tengah yang sebelumnya telah disetujui MGPA sebagai merchandise MotoGP. Di antaranya adalah kerajinan ketak, gerabah, kulit, perak dan juga anyaman.

Dari tujuh produk itu beserta dengan turunannya diharapkan ada sekitar 30 produk UMKM Lombok Tengah yang jadi merchandise MotoGP.

Namun, sampai sekarang MGPA belum memberikan kepastian tentang standarisasi produk-produk yang akan jadi merchandise ini. Padahal, produk UMKM yang sebelumnya sudah disepakati itu sudah siap.

“Cuma legitimasi dari produk-produk yang dapat standar merchandise ini belum ada,”katanya.

Ketidakjelasan ini menjadi pertanyaan pelaku UMKM dan juga pihaknya. Sehingga dalam beberapa rapat koordinasi antara pemerintah dengan stakeholder terkait persoalan itu menjadi hal yang disampaikan.

Apalagi, pelaku UMKM ini sudah mengeluarkan modal besar untuk produksi produknya.

“Ini yang membuat jenuh di bawah ini. Kita jangan di PHP dong. Harus ada kepastian. Jangan digantung,”imbuhnya.

Dia juga menekankan bahwa pemerintah daerah tidak ingin produk-produk UMKM di Lombok Tengah menjadi tamu di daerahnya sendiri. Namun harus menguasai pasar yang ada.

“Setidaknya merchandise yang diperkenankan oleh MGPA separuhnya adalah produk UMKM Lombok Tengah,” katanya.