Bengkel Kopiah Haji di Kediri Mati Suri karena Pandemi

Tumpukan kopiah haji yang tertumpuk di lemari karena sepinya pesanan akibat pandemi, di Toko Songkok Haji Syamsi, Kediri. Jum'at (14/08/2020). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Di tengah pandemi covid-19 ini, para pengrajin kopiah haji yang ada di wilayah Kediri, Lombok Barat justru harus ikut merasakan keterpurukan. Terlebih lagi karena adanya kebijakan pemerintah untuk membatasi kuota jamaah haji pada tahun ini, turut memengaruhi kehidupan pengrajin kopiah haji ini.

“Karena jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, biasanya beberapa pekan sebelum Hari Raya Idul Adha, kami sudah menerima banyak pesanan dari luar daerah seperti Surabaya dan juga luar negeri seperti Timur Tengah,” tutur Ahmad Zaki, salah satu pengrajin kopiah haji, saat ditemui di bengkel produksinya.

Ia mengatakan bahwa pada musim haji biasanya pesanan kopiah yang mereka terima bisa mencapai 400 hingga 900 kodi kopiah haji. Karena biasanya pada masa haji, para pengrajin kopiah ini ramai menerima pesanan terutama dari Timur Tengah. Di mana kopiah hasil produksi mereka juga yang dijual kepada para jamaah haji.

Namun setelah adanya pandemi covid-19 yang juga memengaruhi kebijakan mengenai prosesi ibadah haji tahun ini mengakibatkan merosotnya pesanan yang merek terima. Bahkan kopiah yang sudah siap kirim pun justru harus berakhir sebagai pajangan di bengkel produksi mereka.

“Selama 5 bulan terakhir ini kami tidak pernah produksi lagi, bahkan karyawan banyak yang kami rumahkan” ungkapnya.

Para karyawan ini terpaksa dirumahkan karena minimnya pesanan bahkan tidak lagi adanya pesanan sama sekali sehingga proses produksi pun mangkrak.

“Beberapa waktu lalu pernah ada yang beli dan dalam sehari itu hanya laku 2 buah kopiah seharga Rp 50.000 dan itu pun kadang-kadang kalau ada yang mau beli” pungkasnya.

Dalam kondisi yang serba terhimpit saat ini, dirinya berharap supaya pemerintah daerah juga turut memerhatikan para pengrajin kopiah seperti mereka. Karena barang produksi mereka pun selama ini sudah berhasil menembus pasar ekspor.

Namun mereka justru tidak menerima perhatian dan bantuan stimulus apapun dari pemerintah yang dapat membantu menyeimbangkan kondisi perekonomian mereka di tengah pandemi ini.

“Kami berharap supaya pemerintah bisa membantu memberikan solusi, seperti bagaimana pemasaran yang cocok disaat pandemi seperti ini dan juga membantu permodalan kami akibat kerugian yang kami alami saat ini,”harap Zaky.