BMKG Catat 38 Gempa Susulan dalam Dua Hari

Grafik sebaran 38 gempa yang terjadi sejak 17 Maret 2019 sampai dengan 18 Maret 2019 (Inside Lombok/Stasiun Geofisika Mataram)

Mataram (Inside Lombok) – Selepas diguncang gempa dengan Magnitudo 5.8 pada Minggu (17/03/2019), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui Stasiun Geofisika Mataram mencatat telah terjadi 38 gempa susulan sampai dengan Senin (18/03/2019).

37 gempa susulan tersebut antara lain 29 gempa pada 17 Maret 2019, yaitu 11 gempa sekitar pukul 14.00 Wita, dua (2) gempa pada pukul 15.00 Wita, lima (5) gempa pada pukul 16.00 Wita, satu (1) gempa pada pukul 17.00 Wita, tiga (3) gempa pada pukul 18.00 Wita, empat (4) gempa pada pukul 19.00 Wita, dua (2) gempa pada pukul 20.00 Wita, dan satu (1) gempa pada pukul 22.00 Wita.

Sedangkan pada 18 Maret 2019 terjadi delapan (8) gempa, yaitu satu (1) gempa pada pukul 00.00 Wita, dua (2) gempa pada pukul 01.00 Wita, empat (4) gempa pada pukul 02.00 Wita, satu (1) gempa pada pukul 03.00 Wita, dan satu (1) gempa pada pukul 08.30 Wita.

Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto, menerangkan bahwa pusat gempat tersebut adalah di sekitar wilayah Kabupaten Lombok Timur (Lotim), yaitu 20 Km kea rah utara Kota Selong, sampai dengan wilayah sekitar Gunung RInjani di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Gempa tersebut sendiri terjadi pada patahan lokal di sekitar Gunung Rinjani, dimana patahan tersebut merupakan patahan baru yang belum banyak diteliti sebelumnya.

“Ini patahan lokal yang belum banyak diteliti. Kita belum tahu misalnya, berapa panjangnya, dari mana sampai ke mana. Karena itu kita belum bisa pastikan apakah akan ada gempa susulan dengan kekuatan tertentu,” ujar Agus kepada Inside Lombok, Senin (18/03/2019), di kantornya.

Selain itu, Agus menerangkan bahwa aktivitas sesar di Gunung Rinjani tersebut masih tergolong normal, yaitu aktivitas sesar turun dimana lapisan bebatuan di bawah Gunung Rinjani mengalami penurunan. Berbeda dengan sesar Flores yang bergerak naik dan mengakibatkan gempa Magnitudo 7.0 yang melanda lombok pada Agustus tahun lalu.

“Kalau sesar Flores sudah diteliti sejak dulu. Jadi para ahli bisa memerhitungkan siklus dan kisaran energi yang akan dilepaskan. Tapi gempa yang ini memang berbeda,” tegas Agus.

Agus juga mengingatkan bahwa mengingat posisi geografis Nusa Tenggara Barat (NTB) secara umum yang berada di garis cincin api serta memiliki beberapa patahan aktif, yang perlu dilakukan masyarakat adalah terus melatih kemampuan mitigasi bencana. Dimana masyarakat kedepannya diharapkan mampu menganalisa situasi ketika bencana sehingga tidak panik mampu menyelamatkan diri.

“Yang paling penting itu sekarang literasi mitigasi bencana. Untuk itu, kita (pihak BMKG, red.) akan adakan program, salah satunya mungkin program Goes to School di Lombok dan Sumbawa,” pungkas Agus.