BPBD Mataram Imbau Masyarakat Waspada Dampak Fenomena La Nina

Ilustrasi: Nelayan bersama warga setempat di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, sedang istirahat setelah melaut. (Foto: Inside Lombok/ANTARA/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengimbau masyarakat agar waspada terhadap dampak fenomena La Nina yang saat ini berada pada puncaknya.

“Berdasarkan data BMKG fenomena La Nina mulai pada Bulan November 2020 sampai Maret 2021, puncaknya terjadi pada Bulan Januari dan Februari 2021,” kata
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Mataram Arif Rahman di Mataram, Kamis.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi kondisi cuaca di Kota Mataram, yang dalam beberapa hari terakhir ini terjadi hujan disertai petir dan angin kencang. Fenomena La Nina berdampak meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor.

Akibat hujan dan angin kencang pada Kamis (21/1) pagi, kata Arif, mengakibatkan satu pohon tumbang, yakni di Jalan Pariwisata dan saat ini sudah dilakukan penanganan karena pohon tumbang ke badan jalan, namun tidak sampai menimpa pengendara karena jalanan masih sepi.

“Selama Bulan Januari 2021, kami sudah menangani pohon tumbang akibat angin kencang lebih dari 20 pohon,” katanya.

Sementara untuk laporan terhadap dampak lainnya terhadap fenomena La Nina sejauh ini masih belum ada, seperti banjir, tanah longsor, serta abrasi pantai.

Namun demikian, lanjutnya, untuk mengantisipasi terjadinya gelombang pasang, BPBD secara rutin menurunkan satgas bencana untuk berpatroli pada sepanjang 9 kilometer pesisir pantai di Kota Mataram.

“Sehari satgas bencana yang piket siaga sebanyak 20 orang, sementara yang patroli di pesisir sekitar 3-6 orang atau satu mobil patroli,” katanya.

Dari hasil pantauan sementara, kata Arif, sejauh ini kondisi pesisir dan gelombang belum begitu membahayakan dengan ketinggian 0,5 sampai 1 meter dan nelayan masih bisa melaut.

Ketinggian gelombang yang dianggap tidak aman bagi nelayan melaut berdasarkan BMKG adalah 1,25 meter hingga 2 meter. Terhadap kondisi itu, nelayan sebenarnya sudah paham sebab mereka memiliki kearifan lokal yang sangat kuat.

“Tapi tugas kami tetap harus memberikan informasi kepada nelayan dan aparat setempat,” katanya. (Ant)