BPS Mataram Mendata Tunawisma Melalui Program “Sensus Night”

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram Isa. (Inside Lombok/ANTARA/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat mendata puluhan tunawisma atau penduduk tidak memiliki tempat tinggal dari berbagai kalangan melalui program “Sensus Night” secara serentak pada Selasa (15/9).

“Tadi malam, kita berhasil mencatat sekitar 27 orang tunawisama baik dari kalangan pengemis, gelandangan, pengamen, tukang parkir, dan lainnya,” kata Kepala BPS Kota Mata Isa di Mataram, Rabu.

Sensus terhadap mereka pada malam hari itu, dilaksanakan pada Selasa (15/9), mulai pukul 22.00 Wita sampai dengan Rabu, pukul 01.00 Wita, dengan menyisir semua wilayah Kota Mataram dari ujung barat di Kecamatan Ampenan hingga ujung timur di Kecamatan Sandubaya.

Melalui kegiatan tersebut, tim “Sensus Night” berhasil mencatat 27 orang tunawisma, dengan rincian di kawasan Ampenan ditemukan empat orang, Kelurahan Gomong delapan orang.

“Delapan orang yang ditemukan di emperan sebuah toko di kawasan Gomong, ternyata satu keluarga terdiri atas suami, istri, dan anak-anak mereka,” katanya.

Di Pasar Panglima Cakranegara ditemukan empat orang, Pasar Sindu satu orang, dan kawasan Bertais 10 orang.

Para tunawisama yang terdata itu, katanya, sebagian besar berasal dari luar Kota Mataram, seperti Lombok Timur, Lombok Tengah, bahkan dari pulau seberang.

“Yang asli warga Kota Mataram, hanya sekitar tujuh orang. Sisanya dari luar kota,” ujarnya.

Ia mengatakan “Sensus Night” untuk mendata penduduk yang nomaden atau berpindah-pindah tempat sebagai bentuk optimalisasi¬† sensus penduduk tahun ini.

“Jadi tahun ini, penduduk yang punya rumah dan tidak punya rumah kita data. Tapi untuk penduduk nomaden dilakukan hanya sehari saja, dan khusus yang kita temukan di jalanan pada waktu malam,” katanya.

Dia menjelaskan berdasarkan klarifikasi yang dilakukan petugas terhadap para tunawisma, mereka memiliki berbagai alasan tinggal berpindah-pindah dan pada prinsipnya di daerah asal mereka memiliki tempat tinggal.

Bahkan, kata dia, ada juga yang sudah difasilitasi tinggal di rumah susun sederhana sewa (rusunawa), namun kembali lagi tinggal di jalan.

Beberapa dari mereka memilih berkeliaran di Kota Mataram, katanya, karena menjadi kota untuk mencari nafkah.

Ia menjelaskan terkadang seminggu atau dua minggu sekali mereka pulang ke daerah asal untuk membawa hasil kerja di Mataram.

“Ada yang menjadi pemulung, pengemis, pengamen dan ada juga menjadi tukang parkir. Mereka mengaku penghasilan yang didapat dari profesi yang dilakoninya cukup lumayan sehingga mereka memilih bertahan dengan kondisi yang dihadapi,” katanya.

BPS berharap, ke depan penanganan para tunawisma bisa bekerja sama dengan kabupaten/kota daerah asal agar dilakukan pembinaan secara terpadu.

“Mungkin tidak hanya difasilitasi tempat tinggal saja, tapi mereka juga perlu diberikan keterampilan agar bisa mandiri dan tidak hidup di jalan lagi,” ujarnya. (Ant)