BTNGR Kantongi 150 Nama Pendaki Pemicu Riuh di Savana Propok

Aksi dugem yang terjadi di Bukit Savana Propok, Minggu (01/08/2020). (Inside Lombok/Istimewa).

Lombok Timur (Inside Lombok) – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) sudah mengantongi nama-nama pendaki pemicu keriuhan di Bukit Savana Propok yang viral beberapa waktu lalu. BTNGR saat ini sudah mengantongi 150 nama pendaki.

Kepala BTNGR, Dedy Asriyadi mengatakan bahwa keriuhan yang terjadi di Bukit Savana Propok bukan aksi dugem. Melainkan sebuah pelanggaran SOP pendakian yang dimana SOP pendakian telah diatur sesuai protokol kesehatan covid-19.

“Saya tegaskan sekali lagi bahwa itu bukan aksi dugem, aksi dugem kan harus dibarengi dengan minuman keras,” jelasnya pada Sabtu (15/08/2020).

Dari hasil penelusuran, sebanyak 150 nama pendaki sudah dikantongi oleh pihak TNGR dan akan dibina tentang SOP pendakian.

“Kita akan bina mereka karena mereka anak sini juga, mungkin kalau orang luar yang berbuat seperti itu kita tidak akan izinkan lagi mendaki,” ucapnya.

Sebelumnya, atas kejadian di Bukit Savana Propok, BTNGR telah meminta klarifikasi dari pihak pokdarwis dan juga saksi yang melihat langsung kejadian tersebut. Sehingga bisa disimpulkan bahwa itu bukan aksi dugem melainkan pelanggaran SOP pendakian.

“Sebanyak 150 nama pendaki yang kita kantongi, saya selaku pihak TNGR bertanggung jawab membina anak Lombok menjadi lebih baik lagi dan mengerti SOP pendakian,” jelasnya.

Dengan ditutupnya pendakian di Savana Propok bertujuan untuk membenahi SOP dan melakukan pembinaan kepada para anggota pokdarwis. Bukan hanya pokdarwis di Bukit Savana Propok saja yang melakukan evaluasi SOP, akan tetapi semua pokdarwis sekitar juga melakukan evaluasi.

“Sejak baru dibuka kembali pendakian di Bukit Savana Propok, hanya satu kali ini saja terjadi pelanggaran. Saya pikir itu masih bisa dimaafkan,” ucapnya.

Kedepan, agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Pihak TNGR akan terus mengedukasi para pokdarwis dan juga para pengunjung terkait tata krama dan SOP pendakian.

“Kita edukasi juga pra pengunjung untuk bertanggung jawab dan tidak boleh sebebasnya mengganggu orang lain. Dan juga atas kejadian tersebut kita dari pihak TNGR introspeksi diri agar lebih mengedukasi masyarakat,” ujarnya.