Butuh Perhatian Bersama, Kasus Pelecehan Seksual Anak di Bawah Umur Semakin Meningkat di NTB

Ilustrasi (Image source: Tribunnewsmaker)

Mataram (Inside Lombok) –

Kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur kian memprihatinkan. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Nusa Tenggara Barat mencatat untuk periode Agustus 2021 saja tercatat 99 kasus.

Salah satu yang sempat viral adalah pelecehan seksual yang dilakukan seorang ayah inisial S asal Lotim, yang tega mencabuli anaknya sendiri sejak si anak masih duduk di bangku kelas 4 SD.

“Setiap bulannya kasus ini terus meningkat,” kata Koordinator Bidang Hukum dan Advokasi LPA NTB, Joko Jumadi kepada Inside Lombok, Rabu (24/11). Menurutnya, faktor utama tingginya kasus tersebut adalah paparan pornografi yang semakin menguat. Terutama dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang hampir semua kalangan sudah memiliki telepon pintar.

“Dari anak-anak, pemuda, maupun orang tua sekarang sudah memiliki telepon genggam yang canggih,” ujar Joko. Dikatakan, kasus pelecehan seksual juga terpengaruh akibat gaya hidup media sosial yang mengakibatkan anak-anak mudah terpedaya, serta lemahnya pengawasan orang tua terhadap anak-anaknya.

Ditambahkan Joko, untuk kasus pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh keluarga sendiri seringkali terjadi karena kondisi arsitektur bangunan rumahnya. Terutama bagi keluarga yang kurang mampu, yang di mana sekat antara kamar anak dan orang tua masih sangat terbatas.

“Dalam beberapa kasus terlihat anak perempuan yang sudah gadis masih tidur bersama orang tuanya,” jelas Ketua LPA Kota Mataram tersebut. Faktor inilah yang menjadi pendukung munculnya kasus pelecehan seksual yang dilakukan keluarga sendiri.

Untuk menekan terjadinya kasus ini, lanjutnya, pihaknya sangat mengapresiasi program yang dikeluarkan pemerintah daerah yaitu posyandu keluarga. “Saya berharap dengan adanya program revitalisasi posyandu keluarga ini bisa memperkuat pengasuhan di dalam keluarga,” kata Joko. (nco)