Butuh Perhatian: Krisis Hutan dan Mata Air NTB

Seorang peserta Audisi Duta Lingkungan sedang menanam pohon dalam kegiatan penghijauan yang dilaksanakan Minggu (10/11) kemarin. (Inside Lombok/Ida Rosanti)

Lombok Tengah (Inside Lombok) -Kondisi kawasan hutan di NTB, tidak terkecuali di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), tak bisa dipungkiri sudah sangat memprihatinkan. Upaya-upaya mengembalikan kondisi hutan harus lebih diintensifkan dengan melibatkan semua elemen.

“Tidak bisa kemudian hanya mengandalkan peran pemerintah saja,” ujar Bupati Loteng, H. L. Pathul Bahri, Minggu (10/10) kemarin saat membuka kegiatan Lombok Tengah Menanam.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan Persatuan Wartawan Lombok Tengah (PWLT) bersama Yayasan Duta Lingkungan NTB di Desa Lantan Kecamatan Batukliang Utara tersebut, Pathul mengungkapkan upaya mengembalikan kondisi hutan perlu gerakkan bersama serta harus intens dilaksanakan. Mengingat kondisi hutan di daerah ini sudah begitu memprihatinkan.

Diterangkan, hampir setiap tahun sekitar 650 ribu hektare hutan di Indonesia rusak oleh tangan oknum tak bertanggung jawab. Kondisi serupa juga terjadi di NTB, termasuk di Loteng. Dampaknya pun mulai dirasakan dengan terjadinya berbagai bencana alam, seperti longsor hingga banjir.

Tidak hanya itu, dari sisi iklim, kerusakan hutan juga telah memicu peningkatan suhu bumi sekitar 1,1 derajat per tahun. Jika tidak segera dilakukan upaya penyelamatan dan pengembalian kondisi hutan, salah satunya melalui reboisasi kawasan hutan dengan melakukan penghijauan, maka dampak buruk kerusakan hutan akan semakin parah dirasakan di masa mendatang.

“Yang paling dirasakan juga ialah hilangnya sumber-sumber mata air di daerah ini. Akibat hutan yang gundul, banyak mata air yang debit airnya menurun, bahkan hilang. Akibatnya, masyarakat mulai kesulitan memperoleh air bersih,” imbuhnya. Untuk itu upaya penyelamatan kawasan hutan sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Madani Mukarom. Melihat kenyataan itu, pemerintah provinsi sejak beberapa tahun terakhir intens melakukan gerakan penghijauan. Terutama di kawasan hutan dan sumber-sumber mata air melalui program NTB Hijau.

Tetapi upaya tersebut tidak akan bisa maksimal tanpa dukungan dari elemen masyarakat lainnya di daerah ini. Karena bagaimanapun juga, kalau hanya pemerintah jelas tidak akan mampu.

“Memang harus ada gerakkan bersama. Tidak bisa hanya dengan mengandalkan satu pihak saja,” tandasnya.

Pada kegiatan tersebut ada seribuan pohon yang ditanam. Antara lain pohon buah seperti manggis, durian, dan lain-lain. Dilakukan juga pohon beringin yang memang cocok ditanam di kawasan hutan, karena mampu menahan tanah dari potensi degradasi lahan.

“Pohon beringin banyak kita tanam, lantaran bisa menampung air lebih banyak dari pohon lainnya. Sehingga sangat tepat kalau ditanam di daerah sumber-sumber mata air,” tambah Ketua Yayasan Duta Lingkungan Hidup, Samsul Hadi.