Cerita Perempuan Difabel di Loteng, Omzet Jutaan per Hari dari Bisnis Tanaman Hias

152
Suprihatin di antara beberapa tanaman hias yang dijualnya, Rabu (21/4/2021). (Inside Lombok/Ida Rosanti)

“Aku mau’, dua kata yang singkat itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kalimat ‘aku mau’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung. (RA Kartini).

Kata-kata mutiara dari Raden Ajeng Kartini tersebut nampaknya dipegang teguh oleh Suprihatin. Perempuan penyandang disabilitas di Lombok Tengah (Loteng) yang tampak selalu semangat dan kini sukses menggeluti usaha tanaman hias, yang diberi nama Attin.

Kepada Inside Lombok, Rabu (21/4/2021), Suprihatin menuturkan, berbisnis tanaman hias sudah membantunya memenuhi biaya hidup sehari-hari. Penghasilan yang didapat dari usaha ini mencapai jutaan rupiah per bulan.

“Kalau lagi (rizki) itu kadang-kadang sehari dapat Rp3 juta. Karena kebetulan bunga yang dibeli itu juga modalnya besar,”katanya.

Melalui usaha tanaman hias, perempuan kelahiran 1967 telah menunjukkan kemandirian perempuan secara ekonomi seperti yang digaungkan oleh RA Kartini.

“Manfaat (usaha tanaman hias) besar sekali. Tanpa mengurangi rasa syukur atas rizki suami. Tapi suami sudah pensiun dan uang pensiun dipakai untuk bayar iuran. Untuk kebutuhan sehari-hari dari tanaman hias,”ujarnya.

Bisnis tanaman hias digeluti lulusan Fakultas Pertanian Universitas Mataram ini sejak tahun 2001 lalu yang bermula dari hobi. Pada saat itu, tanaman hias yang dijual hanya satu jenis, yakni bunga anggrek. Anggrek yang dijual cukup laris dan dikirim hingga ke pulau Sumbawa.

“Dulunya saat masih jayanya PT Newmont itu di sana penggemar anggrek saja,”katanya.

Dari bisnis anggrek itu dia akhirnya bisa membeli tanah di kelurahan Praya, tepatnya di belakang usaha Puri Boga. Di lokasi itu kini dia dan suami mengembangkan usaha tanaman hias.

“Karena dulu awalnya itu saya jualan di Kelurahan Jontlak. Tapi karena dibangun kantor Dewan akhirnya pindah ke sini beli tanah di sini. Dulu harganya masih murah. Sekarang sudah Rp100 juta per are,”selorohnya.

Dia sempat berhenti menggeluti bisnis tanaman hias selama beberapa tahun karena memiliki cucu. Namun, ketika sudah berusia beberapa tahun, cucunya jarang datang ke rumahnya.

Hal itu membuatnya kesepian. Sehingga memutuskan untuk memulai lagi bisnis tanaman hias.

Tanaman hias yang dijual didatangkan dari Kota Batu Malang, Jawa Timur yang merupakan daerah kelahirannya.

“Karena di sana itu pusatnya tanaman hias dan juga buah. Keluarga saya di sana juga bisnis tanaman hias,”tuturnya.

Kini, tanaman hias yang dijual cukup beragam. Harganya mulai belasan ribu hingga jutaan rupiah. Selain tanaman hias, dia juga menjual beberapa pohon buah.

Pada awal-awal pandemi Covid-19, usaha tanaman hiasnya seperti mati suri karena tidak ada pembeli. Tapi saat ini, tanaman hias justru makin banyak diminati masyarakat.

“Dulu banyak tetangga yang meragukan saya karena berjualan bunga. Tapi saya menikmati (bisnis) ini. Ini hobi,”katanya.