Cuaca Ekstrem Ganggu Capaian Realisasi “Monumen Mentaram”

Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan, cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di kota ini, mengganggu capaian realisasi pembangunan “Monumen Mentaram” di bundaran Jalan Lingkar Selatan yang dibangun dengan anggaran Rp11 miliar.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Miftahurrahman di Mataram, Jumat, mengatakan, dengan kondisi cuaca saat ini realisasi pembangunan “Monumen Mentaram” hingga 26 Desember 2019, yang menjadi batas akhir kontrak sebesar 94,7 persen.

“Sisanya sekitar 5,3 persen, segera diselesaikan pihak kontraktor karena mereka juga tidak ingin setiap hari mengeluarkan denda dari sisa pekerjaannya,” katanya.

Ia mengatakan, pada prinsipnya pihak kontraktor telah berkomitmen menyelesaikan pekerjaanya sesuai dengan kontrak. Hal itu terbukti sejak awal pengerjaan menunjukkan program yang cukup bagus.

Bahkan untuk mengoptimalkan waktu yang ada, kontraktor telah memberlakukan sistem kerja lembur, namun menjelang akhir kontrak yang bersamaan dengan masuknya musim hujan dan angin kencang menjadi kendala mereka.

“Jenis pekerjaan pengelasan saat hujan berisiko terhadap keselamatan pekerja yang bekerja di atas ketinggian 50 meter. Apalagi ketika ada petir dan konstruksi basah,” katanya.

Karenanya ketika terjadi hujan, para pekerja tidak bisa melanjutkan pekerjaannya sehingga dengan kondisi seperti itu mengganggu capaian hasil kerja mereka dan capaian 94,7 persen merupakan hasil kerja maksimal.

“Harapan kita sebenarnya pada tanggal 26 Desember 2019, bisa 95 persen,” katanya.

Menurut dia sisa pekerjaan 5,3 persen tersebut merupakan tahapan untuk pemasangan ornamen GRC pada empat sisi dari bawah sampai atas, memasang lambang Pemerintah Kota Mataram, pengelasan dan pemasangan kaca ornamen serta penataan untuk tanah urug namun tidak terlalu sulit. Sementara untuk dudukan dan pemasangan mutiara pada ujung monumen sudah rampung.

“‘Monumen Mentaram’ ini mengakomodasi berbagai kearifan lokal, seperti mutiara yang menjadi produk unggulan di Mataram, dan kubah Masjid Islamic Center,” katanya.

Sementara kalau dari sisi material, lanjut Miftahurrahman, sudah 100 persen berada di lokasi tinggal dipasang saja. Artinya, kesulitan yang dihadapi pihak kontraktor adalah pada tingkat pemasangan karena membutuhkan keahlian, ketelitian dan kehati-hatian.

Apalagi ini konstruksi tinggi, sehingga butuh kehati-hatian ditambah lagi dengan cuaca ekstrem sehingga pekerja tidak bisa optimal.

“Bahkan pernah, pekerja sedang pasang kaca ornamen belum selesai disetel datang hujan angin, kaca langsung ambruk. Inilah salah satu contoh tingkat kesulitan,” katanya.

Atas kejadian itulah, para pekerja lebih berhati-hati menyelesaikan pekerjaan yang dalam posisi tingkat kesulitan tinggi sebab pemasangan ornamen butuh kehati-hatian. Kalau salah cara memasang, keliru tidak teliti maka bisa mempengaruhi hasil.

“Jadi keterlambatan capaian pekerjaan tidak ada kaitan dengan kualitas, hanya pada posisi tingkat kesulitan pekerjaan. Material tinggal dipasang saja,” katanya. (Ant)