Dapat Lapak Saat WSBK, Pelaku UMKM di Loteng Keluhkan Sepinya Pembeli

Hearing pelaku UMKM di Kantor Dinas Koperasi dan UMKM, Kamis (25/11/2021). (Inside Lombok/Ida Rosanti)

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Lombok Tengah mendatangi Kantor Dinas Koperasi dan UMKM, Kamis (25/11/2021). Para pelaku usaha tersebut adalah mereka yang ikut berjualan saat event World Superbike (WSBK) digelar di Sirkuit Mandalika pekan lalu.

Sepinya pembeli untuk produk lokal yang ditawarkan pelaku UMKM menjadi pembahasan utama pertemuan pelaku usaha dengan pihak Dinas Koperasi Loteng. “Keluhan kita karena ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi, yang diperkirakan bisa meraup keuntungan sekian, bahkan katanya dolar, ternyata tidak ada,” ujar salah satu pelaku UMKM, Indah.

Padahal, lanjutnya, para pelaku usaha sudah melakukan persiapan yang matang untuk ajang WSBK. Salah satunya dengan produksi dua kali lipat dari biasanya. Namun yang terjadi produk-produk tersebut justru tidak habis terjual.

Ke depan, untuk event MotoGP yang dijadwalkan akan digelar Maret 2022, dia berharap pemerintah lebih memperhatikan UMKM lokal dengan memberikan tempat berjualan atau stan yang lebih bagus dan strategis. Karena kalau persoalan harga dikatakan menjadi salah satu penyebab UMKM sepi pembeli, menurutnya hal itu tidak sepenuhnya benar.

“Harga yang diberlakukan itu sudah sesuai dan diperhitungkan dengan biaya produksi dan lainnya,” tandas Indah.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Lombok Tengah, H. Ikhsan usai menemui para pelaku UMKM tersebut mengakui bahwa kenyataan yang ada di lapangan saat event WSBK tidak sesuai dengan ekspektasi para pelaku UMKM.

Di mana, pembeli lebih sedikit daripada yang dibayangkan. “Keinginannya adalah yang datang nonton itu berbelanja juga. Tapi ternyata hanya beberapa saja yang berbelanja. Itu berpengaruh terhadap nilai transaksi,” jelasnya.

Penyebabnya karena penonton yang datang tersebut sudah lebih dahulu berbelanja di stand lain yang telah dilewati lebih dahulu saat masuk ke dalam sirkuit. “Hal ini menjadi kendala. Dia sudah beli makanan lebih dulu, sehingga tidak beli lagi di stand yang ada. Ke depan saat MotoGP mungkin perlu diatur arus lalu lintasnya biar tidak seperti ini lagi,” katanya.

Meski demikian, rata-rata perputaran uang UMKM saat event WSBK tersebut mencapai ratusan juta per hari. Bahkan, secara keseluruhan menurutnya perputaran uang mencapai Rp70 miliar selama event berlangsung.

“Sehingga ini sebenarnya sudah memberikan multiplier effect yang besar,” cetusnya. (irs)