Dianggap Terlalu Kejam, Pelaku Penembakan di Selandia Baru Akan Jadi Target Gangster Penjara

(sumber foto: kompas.com)

Mataram (Inside Lombok) – Pelaku penembakan yang lebih mirip pembunuhan massal di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, berdasarkan putusan Pengadilan Chistchurch kini mendekam di penjara sambil menjalani proses hukumnya atas tuduhan pembunuhan.

Menanggapi itu, muncul pendapat di kalangan ahli Kriminologi bahwa di dalam penjara Tarrant akan menjadi target anggota gangster mengingat alasan Tarrant melakukan penembakan adalah untuk “menyelamatkan” kekuasaan orang kulit putih yang cenderung mengarah kepada paham fasisme.

Dikutip dari New Zealand Herald (nzherald.co.nz), seorang Kriminolog dari Universitas Canterbury, Greg Newbold, menerangkan bahwa Tarrant dan pihak berwajib perlu mengantisipasi kemungkinan ancaman yang akan diterima Tarrant secara serius. Hal itu didasarkan Greg pada penelitiannya dimana dirinya pernah menghabiskan waktu cukup lama di dalam penjara.

“Saya akan menanggapi itu secara serius dan saya berani mengatakan bahwa dia (Tarrant, red.) sedang dalam ancaman bahaya yang serius,” ujar Greg.

Menurut Greg, akan ada beberapa kelompok yang sangat marah atas aksi yang dilakukan Tarrant. Terlebih mengingat alasan Tarrant melakukan hal tersebut adalah untuk menunjukkan supremasi kaum kulit putih.

Greg menerangkan bahwa penghuni penjara tempat Tarrant sekarang berada didominasi oleh orang-orang non-kulit putih, dan akan sangat susah untuk Tarrant mencari dukungan untuk pikiran fasisnya tentang supremasi orang kulit putih tersebut. Dimana para tahanan dengan kasus sama seperti Tarrant selama ini akan menarik diri dan berusaha tidak membuat masalah apa-apa di dalam penjara.

Jika Tarrant dipindahkan ke penjara di wilaah South Island, menurut Greg disana Tarrant akan menemukan beberapa tahanan yang sepaham dengan dirinya tentang supremasi orang kulit putih. Namun jika melihat kekejian yang dilakukan oleh Tarrant saat melakukan penembakan, ada kemungkinan besar Tarrat akan dikirim ke penjara Auckland untuk menjalani hukumannya.

“Sangat mungkin dia (Tarrant, red.) akan menghabiskan sisa hidupnya di dalam pengasingan, dan setidaknya lima sampai 10 tahun dalam penjara yang benar-benar terpisah,” ujar Greg.

Sebelumnya beberapa anggota geng motor juga telah melakukan tarian haka, sebuah tarian persiapan perang dari suku Maori yang mendiami Selandia Baru untuk menghormati para korban dari aksi keji Tarrant tersebut.

“Kami juga punya teman di dalam sana,” ujar salah seorang anggota geng selepas melakukan tarian tersebut.

Walaupun anggota geng tersebut tidak menunjukkan maksudnya dengan jelas. Para ahli menggangap bahwa ucapan tersebut menandakan peringatan serius bagi keamanan Tarrant di dalam penjara.