Diarpus Mataram Batasi Pengunjung Tekan Peningkatan Kasus COVID-19

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, kembali membatasi jumlah pengunjung perpustakaan sebagai upaya menekan peningkatan kasus positif baru COVID-19 di kota itu.

“Selama bulan Januari 2021, kita mulai membatasi dan mengatur kunjungan karena terjadi tren peningkatan kasus COVID-19 di Kota Mataram,” kata Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kota Mataram Hj Miftahayatun, di Mataram, Kamis.

Data terakhir Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Mataram, Kamis (28/1-2021) pukul 12.00 Wita, tercatat tambahan kasus positif sebanyak 36 orang dan 1 orang meninggal dunia. Dengan tambahan kasus tersebut, total kasus COVID-19 di Kota Mataram menjadi 1.762 kasus, masih dalam perawatan 301 orang, sembuh 1.357 orang, dan 104 meninggal dunia.

Menurutnya, ketika kasus COVID-19 mulai melandai sekitar November 2020, pihaknya mencoba membuka pelayanan kunjungan seperti biasa dengan tetap menerapkan protokol kesehatan COVID-19.

“Tetapi saat ini, upaya pencegahan dalam pelayanan di Diarpus kita tingkatkan dan perketat lagi dengan berbagai aturan dan pembatasan sebagai langkah pencegahan penyebaran COVID-19,” katanya.

Pembatasan yang dilakukan di antaranya jumlah kunjungan masyarakat di dalam ruang baca maksimal 10 orang, dengan tetap disiplin menggunakan masker dan menjaga jarak sesuai ketentuan.

“Apabila ada pengunjung, biasanya dari mahasiswa semester akhir yang datang dengan jumlah banyak, kita minta sebagian menunggu di luar dan masuk secara bergantian,” katanya.

Selain itu, waktu pelayanan di Diarpus Kota Mataram juga dipersingkat hanya sampai pukul 12.00 Wita dari jadwal biasa pukul 15.00 Wita. Karenanya, rata-rata kunjungan saat ini di bawah 50 orang, mereka datang dan masuk secara bergantian.

“Pembatasan itu menjadi solusi agar pelayanan Diarpus bisa tetap jalan, sebab banyak juga keluhan dari orang tua kalau anak-anaknya jenuh di rumah dan ingin diajak main sambil belajar di perpustakaan,” katanya.

Miftahayatun mengatakan, pelayanan Diarpus yang dihentikan sementara khusus kegiatan kunjungan secara kolektif dari sekolah-sekolah. Dimana dalam sehari bisa mencapai lebih dari 100 anak.

“Kalau dulu, kunjungan sehari bisa di atas 100 orang karena adanya program kunjungan siswa. Dalam sehari tiga kelas, satu kelas sekitar 30-40 siswa,” katanya.

Sedangkan untuk pelayanan lain, tambah Miftahayatun, seperti pembuatan surat bebas pinjam untuk mahasiswa yang akan menyelesaikan skripsi, kunjungan perseorangan dan lainnya tetap dilayani dengan catatan disiplin prokes COVID-19. (Ant)