Dikbud NTB Sesalkan Aksi Tawuran Antar Siswa Lombok Tengah

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd. (Inside Lombok/istimewa)

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB sangat menyesalkan tawuran antar siswa SMK 1 Praya dan SMA 2 Praya Lombok Tengah yang terjadi Senin (6/9) kemarin pada saat pembelajaran tatap muka. Karena berdasarkan laporan yang diterima Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, tawuran yang terjadi antar siswa tersebut disebabkan karena adanya persoalan di internal para siswa di satu sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., Selasa (7/9) mengatakan, terkait tawuran antar pelajar tersebut, pihaknya sudah meminta semua kepala sekolah yang ada di zona untuk melakukan koordinasi. Laporan yang diterima, tidak ada korban yang disebabkan oleh tawuran tersebut. L

“Informasinya itu sih katanya karena game online atau apa itu. Saya tidak paham. Terjadi tawuran di dalam sekolah dan diselesaikan oleh guru BP, wakasek kesiswaan oleh kepala sekolah. Tidak ada masalah clear lah,” katanya.

Namun nyatanya lanjut Aidy, setelah didamaikan oleh guru, salah satu siswa belum bisa menerima dan akhirnya tawuran dilanjutkan di luar sekolah. “Setelah didamaikan itu. Salah satu dari mereka itu ingin makan, dan minta izin keluar mencari makan. Dan pada saat itu lah kejadiannya di luar. Karena jaman teknologi mereka saling mengabari dengan teman-temannya,” ungkap Aidy.

Menurutnya, dari video yang sudah beredar perkelahian antar siswa tidak terlalu serius. Ada yang masih terlihat bercanda. “Saya sudah meminta pak sekdis ke sana. Berkoordinasi dengan teman-teman yang ada di zona itu. Itu tidak boleh terulang, tidak boleh ada gerakan massa dari satu kubu. Karena mereka sudah berdamai. Saya minta untuk mengatur. Karena di sana itu padat dan saya ingin mengatur cara masuknya,” katanya.

Untuk mengantisipasi kejadian tersebut tidak terulang kembali, orang tua siswa dari kedua belah pihak harus bertemu. “Orang tua dari kedua belah pihak, apakah anak-anak ini dari satu desa yang sama atau berbeda untuk bertemu. Itu cara cara kita membangun pola pendidik masyarakat. Dan semoga tidak terjadi di tempat yang berbeda,” katanya.

Tawuran yang terjadi antar siswa tersebut menurut Aidy Furqon, adalah cara siswa menarik perhatian. “Saya menyikapi ini sebagai rekasi anak-anak pada usianya. Memerlukan perhatian dari guru, kepala dinas dan masyarakat. Namun hikmahnya adalah pembelajaran,” pungkasnya.

Ia juga menyayangkan tawuran tersebut terjadi pada saat pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas. Namun diakui, di kawasan tersebut cukup ramai. Sehingga meski diterapkan pembelajaran tatap muka secara terbatas, potensi kerumunan akan tetap terjadi.

“Ya kejadian tawuran kemarin memberikan pembelajaran buat kita. Sekolah sudah betul prosedurnya yang belajar sebagian. Tapi di zona itu sekali lagi zona ramai. Ada empat atau lima sekolah. Kalau bareng-bareng keluar kan jadi banyak. Jadi tidak kelihatan separuh-separuhnya gitu,” katanya.

Sehingga untuk mengantisipasi kejadian tersebut, pihak sekolah akan mengatur kembali jadwal kepulangan para siswa. “Kalau jadwal masuk mereka relatif lebih aman, lebih tertib kan. Nah dijadwal pulang kita atur lagi,” ujarnya.