Dinilai Memberatkan, Pengusaha Hotel di Senggigi Berharap Wisman Tak Perlu Karantina

Ketua Senggigi Hotel Association (SHA), I Ketut M Jaya Kusuma, saat ditemui di Holiday Resort Senggigi, beberapa waktu lalu. (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur’ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Pengusaha hotel di Senggigi berharap pemerintah dapat mengkaji kembali kebijakan yang mewajibkan setiap wisatawan mancanegara (wisman) yang akan berwisata di Indonesia untuk karantina delapan hari di lokasi entry point.

“Kita di industri ini harapannya tanpa karantina. Karena pas mereka akan booking tiket kan sudah dipastikan negatif Covid- 19,” ucap ketua Senggigi Hotel Association (SHA), I Ketut M Jaya Kusuma saat dikonfirmasi.

Aturan tersebut dinilai tidak mendesak, karena setelah sampai di entry point Indonesia wisman akan melewati pengecekan kembali. Khususnya untuk memastikan seluruh wisatawan yang datang benar-benar negatif Covid-19.

“Sehabis itu saya pikir seharusnya mereka tidak perlu lagi karantina. Karena itu berat bagi wisatawan,” imbuhnya.

Untuk itu pihaknya berharap kebijakan tersebut dapat ditinjau kembali oleh pemerintah. Terlebih saat ini sarana dan prasarana hotel di kawasan Senggigi diakuinya sudah disiapkan sesuai dengan protokol kesehatan.

“Kita akan menerapkan aplikasi peduli lindungi. Jadi setiap wisatawan yang masuk ke hotel sudah harus scan barcode-nya,” tutur dia.

Kendati beberapa hotel di Senggigi sudah mulai ada bookingan dari beberapa negara, diakuinya hingga saat ini rata-rata hotel di kawasan tersebut belum menyiapkan tempat khusus untuk karantina bagi wisman. Mengingat sejauh ini kebijakan itu hanya berlaku di titik entry point saja.

“Kalo saat ini belum kita siapkan, karena kebijakan itu berlaku hanya di entry point seperti Bali. Jadi nanti mereka Isomannya di Bali,” jelas dia. Setelah melewati karantina delapan hari itu, baru kemudian wisman diperbolehkan berwisata ke destinasi lainnya yang ada di Indonesia.