Disdik Mataram Tiadakan Tradisi Pemotongan Hewan Kurban di Sekolah

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali. Inside Lombok/ANTARA/Nirkomala

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Pendidikan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, meniadakan tradisi pemotongan hewan kurban di sekolah di tengah pandemi COVID-19, untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

“Jadi kita sudah meminta semua sekolah tidak melakukan aktivitas pemotongan hewan kurban di sekolah. Tradisi pemotongan kurban di sekolah tahun ini kita tiadakan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali di Mataram, Senin.

Ia mengatakan, pandemi COVID-19 ini menjadi masa sulit untuk melaksanakan kegiatan di sekolah, karena kegiatan di sekolah pasti akan mengumpulkan orang banyak dan hal itu bertentangan dengan protokol COVID-19.

Apalagi, Kota Mataram saat ini masih menjadi daerah dengan zona merah karena kasus positif baru COVID-19, ditemukan setiap hari. Bahkan, jumlah kasus positif COVID-19 di Kota Mataram tertinggi dibandingkan kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat.

Dimana berdasarkan data dari Tim Gugus Tugas COVID-19, Minggu (26/7-2020) pukul 22.00 Wita, total 831 orang, 266 orang masih dalam perawatan, 507 orang sembuh dan 58 orang meninggal dunia.

“Karena itu, kita khawatirkan anak-anak akan datang dan berkumpul jika sekolah mengadakan kegiatan pemotongan hewan kurban,” katanya.

Kendati kegiatan pemotongan hewan kurban di sekolah ditiadakan, lanjutnya, guru agama akan memberikan berbagai penjelasan tentang Idul Adha melalui pendidikan dalam jaringan (daring) atau luar jaringan (luring).

Kemudian guru akan memberikan tugas pekerjaan rumah (PR) kebaikan untuk anak-anak tentang apa saja hal-hal yang dilakukan setiap hari untuk bisa memperbaIki budi pekerti.

Misalnya, membersihkan masjid untuk persiapan shalat Idul Adha, membantu orang dalam kesulitan atau menjenguk keluarga yang sakit dan berbagai kegiatan kebaikan yang dituangkan dalam sebuah catatan.

“Hasil dari tugas-tugas yang diberikan itulah yang nantinya menjadi bahan evaluasi pemberian untuk nilai mata pelajaran sosial dan agama,” katanya. (Ant)