Dispar Lobar Dapat Rp13,59 Miliar Dana Hibah, 70 Persen untuk Hotel

Lombok Barat (Inside Lombok) – Dinas Pariwisata Lombok Barat akan mendapatkan hibah dari Pemerintah Pusat. Jumlahnya Rp13,59 miliar. 70 persen akan diberikan kepada industri perhotelan di Lobar. Sementara sisanya akan digunakan untuk penataan, bimtek dan lain-lain.

Terkait dengan penyaluran dana hibah sebesar 70 persen yang akan diberikan kepada hotel dan restoran, hingga saat ini Dispar masih dalam proses validasi dan verifikasi.

“Validasi data itu ada dua, pertama validasi data oleh Bapenda dan validasi data juga oleh kami (Dispar, read), yang dilakukan juga dengan turun langsung ke lapangan” beber Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Saeful Ahkam, Jumat (06/11/2020).

Apabila validasi dan verifikasi data telah selesai, maka setelah dihitung berdasarkan skema pembagian. Selanjutnya dana tersebut akan langsung masuk ke rekening hotel dan restoran yang bersangkutan.

“Titik rawannya ya sekarang ini, karena pendataannya harus valid sesuai dengan persyaratan yang ada dalam juklak juknis” tegasnya.

Di mana syaratnya ada tiga, yang pertama adalah hotel dan restoran yang memiliki TDUP (Tanda Daftar Usaha Pariwisata). Kemudian hotel dan restoran yang telah membayar pajak pada tahun 2019, serta hotel dan restoran yang masih aktif beroperasi hingga kini.

Sementara itu, Rencananya 5 persen dari dana hibah yang dikelola Pemda akan digunakan untuk pengelolaan dan memastikan kenyamanan, kebersihan, serta keindahan di daerah tujuan wisata. Harapannya akan semakin banyak wisatawan yang berkunjung.

“Kita akan melibatkan himpunan pramuwisata, teman-teman asosiasi, termasuk juga dengan teman-teman peduli lingkungan. Di lapangan juga kita akan melibatkan teman-teman Pokdarwis, termasuk masyarakat sekitar lokasi wisata,” beber Kepala Dinas Pariwisata, Saeful Ahkam, Jumat (06/11/2020).

Dirinya mengaku bahwa pihaknya telah membuat skema terkait program tersebut. Yang rencananya akan menyasar paling tidak sekitar 60 daerah tujuan wisata yang tersebar di seluruh wilayah Lombok Barat.

“Supaya gotong royong itu bisa menjadi kebiasaan para pelaku pariwisata yang ada di daerah pariwisata” harapnya.

Karena lebih dari 70 persen amenitas yang ada dalam 7 sapta pesona wisata, lanjutnya, itu dipengaruhi oleh kebiasaan dan lingkungan yang ada di daerah tujuan wisata.

Dirinya mencotohkan, ketika berupaya memberi kesadaran kepada para pelaku wisata mengenai sampah. Maka yang perlu juga dilakukan adalah bagaimana supaya pelaku pariwisata bisa memilah sampah dari rumah tangga. Kemudian bagaimana mengolah sampah supaya dapat bernilai ekonomis.

Sehingga hal tersebut bisa menjadi salah satu solusi terkait persoalan kebersihan di daerah wisata.

“Kedua hal ini, harus dibungkus oleh kesadaran para pelaku pariwisata dan pelaku yang ada di sekitar” ujarnya.