DKP Bina Istri Nelayan Mataram

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Mataram Hj Baiq Sujihartini. (Foto: Inside Lombok/ANTARA News/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, melaksanakan program pembinaan bagi istri nelayan dengan memberikan keretampilan pengelolaan hasil laut, sebagai usaha alternatif ketika suami tidak melaut akibat cuaca ekstrem.

“Untuk pembinaan dalam dua tahun, yakni 2019-2020, kami bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Mataram, dalam bentuk hibah,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram Hj Baiq Sujihartini di Mataram, Senin.

Ia mengatakan, bantuan hibah tersebut diberikan setelah para istri nelayan mendapatkan keterampilan pengolahan hasil laut, masing-masing Rp500 ribu, namun diberikan dalam bentuk kelompok.

Istri nelayan yang sudah mendapatkan bantuan hibah Baznas itu sebanyak 14 kelompok dengan rincian satu kelompok minimal beranggotan 10 orang dan maksimal 15 orang.

“Jika para istri nelayan baik dalam mengembalikan hibah ke rekening mereka, dalam arti uang yang didapatkan dari usaha bisa ditabung kembali ke rekening mereka maka mereka bisa kembali mendapatkan bantuan hingga Rp1 juta per orang,” katanya.

Oleh karena itu, tim penyuluh DKP aktif melakukan pemantauan dan pembinaan terhadap para istri nelayan yang sudah mendapatkan bantuan hibah agar tepat sasaran yakni untuk mengembangkan usaha dari keterampilan yang sudah diberikan.

Menurutnya, untuk dua tahun terakhir ini jenis pengolahan hasil laut yang diberikan kepada istri nelayan adalah abon ikan.

“Alhamdulillah, meskipun di awal kami hanya memberikan edukasi tentang pengolahan abon ikan, istri nelayan kini sudah kreatif mengembangkan kemampuan mereka dengan membuat kerupuk dan bakso ikan,” katanya.

Karenanya, dari hasil evaluasi yang dilakukan rata-rata istri nelayan yang telah dibina mampu mengambangkan usaha mereka, sesuai dengan sasaran dan harapan pemerintah terhadap program tersebut.

“Selain itu, usaha yang ditekuni istri nelayan bisa menjadi usaha alternatif ketika suami mereka tidak melaut selama cuaca ekstrem sehingga perekonomian nelayan tetap stabil,” ujarnya. (Ant)