DKP Mataram Batah Nelayan Jual Bantuan Konverter Kit

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, membantah nelayan Mataram menjual bantuan konverter kit dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui program konversi BBM ke elpiji tiga kilogram.

“Sampai saat ini, saya belum menerima laporan dari penyuluh lapangan terkait dengan nelayan yang menjual bantuan konverter kit tersebut,” kata Kepala DKP Kota Mataram Hj Baiq Sujihartini di Mataram, Kamis.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi pengakuan dari dua nelayan Kota Mataram yang telah menjual bantuan konverter kit, dengan asalan nelayan mengaku berat untuk membawa tabung elpiji melaut serta mereka tidak berani merokok. Karena itu, bantuan konverter kit yang mereka terima dijual kemudian membeli mesin biasa.

Dikatakan, selama ini nelayan yang menerima bantuan konverter kit baik-baik saja dan tetap menggunakan bantuan untuk meningkatkan hasil tangkapan mereka.

“Tetapi, ternyata setelah diklarifikasi oleh penyuluh terhadap nelayan yang mengaku menjual bantuannya itu, ternyata mereka yang belum mendapat bantuan,” katanya.

Menurutnya, untuk mengantisipasi terjadinya salah sasaran dan penjualan bantuan, DKP memiliki sembilan orang penyuluh perikanan di dua kecamatan yakni Kecamatan Ampenan dan Sekarbela.

Para penyuluh itulah yang mengusulkan calon penerima bantuan, melakukan verifikasi, survei hingga mengawasi nelayan penerima bantuan sampai pemanfaatnya.

“Dengan demikian, penyuluh kami ini tetap mengawasi dan tahu kondisi nelayan sehari-hari serta melaporkan jika ada indikasi nelayan yang menjual bantuannya,” katanya.

Nelayan yang menjual bantuannya, katanya, menjadi catatan dinas sehingga pada program bantuan selanjutnya mereka tidak akan diakomodasi.

“Hal itu sesuai dengan surat pernyataan yang mereka tandatangani sebelum menerima bantuan,” katanya.

Lebih jauh Sujihartini mengatakan, program konversi BBM ke elpiji dilaksanakan untuk menghemat biaya operasional yang dikeluarkan oleh para nelayan. Sejak beralih menggunakan gas, para nelayan hemat biaya operasional sekitar 40 hingga 60 persen.

“Satu tabung elpiji tiga kilogram sama halnya dengan membeli BBM sebanyak 5-7 liter, sehingga efisiensi bisa mencapai 50 persen,” ujarnya.

Sementara jumlah nelayan yang sudah mendapatkan bantuan konverter kit sampai tahun 2019, sekitar 740 orang. Sementara sisanya sebanyak 660 nelayan direncanakan dapat tahun ini.

“Tapi karena terjadi pandemi COVID-19, pendistribusian bantuan konverter kit tahun 2020 ditunda pada tahun 2021,” katanya. (Ant)