DPMPTSP NTB Berikan Rapor Merah kepada 22 Investor

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Nusa Tenggara Barat memberikan rapor merah kepada 22 investor penanaman modal asing karena tidak memiliki alamat jelas dan batal berinvestasi.

“Ada 10 investor asing yang tidak jelas alamatnya dan 12 investor batal berinvestasi,” kata Kepala DPMPTSP NTB H Lalu Gita Ariadi, di Mataram, Kamis.

Ia mengatakan sebanyak 22 investor penanaman modal asing tersebut diberikan rapor merah setelah dilakukan pengawasan sejak Januari-Juli 2019.

Tim Pengawasan DPMPTSP NTB melakukan penelusuran terhadap seluruh investor penanaman modal asing di NTB yang berjumlah 139 investor. Pengawasan dilakukan bersama dengan pemerintah kabupaten/kota.

Gita menambahkan seluruh investor yang mendapatkan rapor merah tersebut mendapatkan izin dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta, selaku lembaga yang memiliki kewenangan mengeluarkan izin untuk penanaman modal asing.

Investor yang tidak jadi berinvestasi disebabkan karena masalah internal dan rencana bisnisnya tidak sesuai harapan. Sedangkan investor yang tidak jelas alamatnya tidak diketahui apa tujuannya sebenarnya mengajukan izin berinvestasi.

“Makanya, kami melaporkan hasil pengawasan di lapangan ke BKPM selaku lembaga yang mengeluarkan izin. Kami minta agar izinnya dicabut,” ujarnya.

Meskipun ada investor yang diberikan rapor merah, kata dia, pihaknya tetap optimistis target realisasi investasi pada 2019 sebesar Rp16 triliun akan tercapai karena masih banyak investor penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri yang sedang berproses.

Sebanyak 77 investor penanaman modal asing yang sudah dilakukan pengawasan selama periode Januari-Juli 2019, seluruhnya masih melakukan aktivitas realisasi investasi.

Para investor tersebut ada yang sudah dalam tahap produksi komersial, konstruksi dan proses lainnya. Namun, masih perlu diberikan pembinaan agar tertib dalam administrasi pelaporan realisasi investasi.

“Realisasi investasi hingga semester I-2019 sudah mencapai Rp5 triliun. Tapi kami optimis bisa mencapai target Rp16 triliun hingga akhir tahun karena sebagian besar investor yang sudah masuk sedang dalam proses,” ucap Gita. (Ant)