DPRD Minta Pemprov NTB Stabilkan Harga Tembakau

Anggota DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB), Bukhori Muslim. (Inside Lombok/ANTARA/Nur Imansyah)

Mataram (Inaise Lombok) – Anggota DPRD Nusa Tenggara Barat Bukhori Muslim meminta Pemerintah Provinsi NTB turun tangan menstabilkan harga tembakau yang kini terus anjlok sehingga tidak makin merugikan petani tembakau.

“Kalau harga tembakau mahal, semua kesejahteraan rakyat terakomodasi. Tidak perlu berpikir jadi PNS atau usaha lain, kalau petani tembakau ini bisa jual dengan harga pantas, tidak usah mahal pasti akan membuat perekonomian masyarakat semakin bagus,” ujarnya di Mataram, Kamis.

Bukhori mengungkapkan, dari informasi para petani tembakau khususnya di Kabupaten Lombok Timur harga tembakau saat ini sudah berada di kisaran Rp400 ribu sampai Rp500 ribu per kuintal. Padahal, dibanding tahun 2018 harga tembakau per kuintal bisa mencapai Rp4,5 juta.

“Itu harga bagus, jauh sekali merosotnya dengan harga sekarang,” kata Bukhori.

Menurut politisi NasDem dari daerah pemilihan Kabupaten Lombok Timur (Lotim) ini, turunnya harga tembakau menjadi masalah klasik yang terjadi setiap tahun dan tidak pernah tuntas.

Bahkan, akibat harga rendah banyak petani yang kemudian enggan menanam tembakau, karena harga jual tidak sebanding dengan biaya produksi yang tinggi.

“Itu saja masalahnya. Harga rendah, biaya produksinya tinggi. Sehingga tidak menutupi. Karena biaya tinggi petani beralih ada yang menjadi TKI untuk menutupi utang, ada yang bangkrut akibat berhutang di rentenir,” ungkap Bukhori.

“Kalau pun masih bertahan untuk tutup ongkos produksi petani menggunakan kayu untuk oven tembakau, karena itu satu-satunya cara meminimalisasi biaya. Tapi,  kalau kayu terus dipakai, tunggu bencana datang,” ucapnya.

Karena itu, agar harga tembakau stabil, dirinya mendorong pemerintah menekan pengusaha sehingga harga tembakau bisa menjadi stabil. Karena jika ini semakin dibiarkan maka yang paling dirugikan adalah petani.

“Ini lah yang kita tidak mau. Makanya perlu ada koordinasi dengan pemerintah dan pengusaha. Jangan pengusaha mau enak saja. Perlu didatangi dan berdialog bagaimana stabilkan harga tembakau,” katanya. (Ant)