Dua Bulan Nunggak Bayar Kredit, Oknum ‘Debt Collector’ Todong ZA Pakai Senpi

Penagihan disertai ancaman menggunakan Senpi yang dilakukan oleh oknum debt collector dan oknum yang diduga anggota kepolisian, terhadap ZA. Di kantor desa Bagek Polak, kecamatan Labuapi, Lobar. Jum’at (24/09/2021). (Inside Lombok/Istimewa).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Jagat maya dihebohkan oleh video yang beredar mengenai tindakan pengancaman yang dilakukan oleh seorang oknum yang diduga merupakan anggota kepolisian, bersama tiga orang debt collector dari salah satu perusahaan finance.

Peristiwa pengancaman¬† itu menimpa ZA, seorang mahasiswa asal Praya Lombok Tengah, yang saat itu tengah melaksanakan kegiatan organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) di kantor desa Bagek Polak, kecamatan Labuapi Lombok Barat (Lobar), Jum’at, 23 September 2021 sore sekitar pukul 17.00 WITA.

Pengancaman itu diduga dipicu akibat seretnya kredit kendaraan milik keluarga ZA selama dua bulan.

“Saat itu, dari penuturan korban, dia didatangi secara tiba-tiba tanpa diberitahukan dulu ada masalah apa. Sehingga dia menelepon orang tuanya, untuk memberi penjelasan kepada orang yang datang ini,” tutur Rosihan Zulhi, selaku teman korban.

Namun, kata dia, ketiga oknum yang datang tersebut tidak sabaran untuk menunggu komunikasi korban dengan orang tuanya. Sehingga mereka naik pitam langsung merangkul dan menyeret korban untuk dibawa ke mobil, sembari korban ditodong menggunakan pistol.

“Seperti di video yang beredar, jadi oknum ini mengeluarkan pistol dan mengaku anggota polisi. Mereka berempat, tapi yang mengeluarkan senjata cuma satu,” bebernya.

Rosihan berharap supaya pihak kepolisian dapat segera memproses pelaku. Beserta oknum yang mengaku anggota polisi tersebut.

“Kami berharap, Bapak Kapolda NTB dan bapak Kapolres Lobar segera mengungkap kenapa oknum itu ikut-ikutan menjadi debt collector,” tegasnya.

Karena akibat peristiwa itu, kini korban mengalami trauma karena diancam menggunakan senjata api dan diintimidasi di dalam kendaraan saat akan dibawa ke kantor finance yang bersangkutan.

“Seharusnya mereka (debt collector) datang dengan baik-baik. Apalagi korban datang ke sini untuk belajar,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Kades Bagek Polak, Amir Amrain Putra, bahwa peristiwa pengancaman itu terjadi di kantor desa. Saat para mahasiswa itu tengah menyelenggarakan kegiatan.

“Saat itu, tiba-tiba muncul debt collector ini di halaman dan terjadi tarik menarik, ingin langsung membawa mobil korban,” jelasnya.

Dalam kejadian tarik menarik itu, salah satu oknum yang mengaku anggota kepolisian langsung mengeluarkan senjata api. Hal itu sangat disayangkan, karena debt colector tanpa seizin perimerintah desa langsung menerobos masuk tanpa izin.

“Akibat keributan itu mengundang warga, banyak yang mengira seolah-olah ada perkumpulan maling dan ada kejahatan di kantor desa. Kalau begini kan kredibilitas saya juga tercoreng,”sesalnya.

Dirinya mengaku baru mengetahui bahwa keempat orang yang membuat gaduh itu merupakan oknum debt colector setelah kejadian berlalu.

“Saya berharap mereka segera diproses dengan tegas. Kalau betul ada anggota polisi, itu diproses. Apakah dipecat atau dimutasi,” tegas dia.