Empat Kamar Kos Ludes Terbakar di Kerandangan, Kerugian Capai Ratusan Juta

90
Empat lokal kos-kosan yang terbakar di dusun Kerandangan, RT 05. Rabu (19/01/2022). (Inside Lombok/Istimewa).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Diduga akibat korsleting listrik, sebuah rumah dan empat lokal kos-kosan ludes dilalap si jago merah di Dusun Kerandangan, RT 05, Desa Senggigi, Rabu (19/01) sekitar pukul 08.45 Wita. Kerugian akibat peristiwa itu diperkirakan mencapai Rp200 juta.

“Korban ini atas nama ibu Ni Putu Arini, dia lagi nganter anaknya sekolah. Jadi dia tidak mengetahui rumahnya kebakaran karena arus pendek listrik,” tutur Kades Senggigi, Mastur saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (19/01/2022).

RT setempat pun langsung melaporkan peristiwa itu kepada pihak desa, sehingga pihaknya langsung menghubungi pihak pemadam kebakaran (Damkar). “Alhamdulillah Pemadam Kebakaran datang dan api berhasil dipadamkan,” imbuhnya.

Diterangkan, saat tim pemadam datang bangunan kos-kosan tersebut memang telah ludes dilalap api hingga tidak tersisa. Saat kejadian, tim Damkar UPT Batulayar disebutnya berangkat dari Kantor Camat sekitar pukul 09.06 Wita. Namun tiba di lokasi sekitar pukul 9.30 Wita.

“Ke depannya kita harapkan pemadam kebakaran itu ada satu saja yang bersiaga di sini (Kantor Desa Senggigi, Red). Supaya bisa cepat ambil tindakan kalau ada peristiwa kebakaran, apalagi di sini banyak hotel juga,” tukasnya.

Sementara itu, Kasi Pemadam Kebakaran Lobar, Lalu Satriawan menyebut dugaan sementara penyebab kebakaran tersebut akibat korsleting listrik. Proses pemadaman pun diakuinya melibatkan personel dan kendaraan Damkar yang ada di UPT Batulayar. Ditambah lagi dengan personel dan kendaraan yang diterjunkan dari kantor induk Damkar di Gerung.

“Sehingga jumlah kendaraan pemadam yang turun 3 unit dan menghabiskan 2 tangki air,” pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Camat Batulayar Afgan Kusuma Negara menjelaskan mengapa UPT Damkar tetap harus ada di kantor Camat. Karena lokasinya dinilai lebih bisa menjangkau daerah-daerah lain di kecamatan Batulayar.

“Respon timnya sudah bagus kok, 15 menit,” ujar Afgan. Ia menilai, lambatnya tindakan pemadaman saat terjadi kebakaran juga karena selama ini yang mengetahui nomor darurat untuk penyelamatan hanya pejabat desa.

“Selama ini kan yang mengetahui nomornya hanya desa saja, sehingga warga harus mencari aparat desa dulu baru bisa menghubungi Damkar,” ujarnya.

Untuk itu, Afgan menyarankan agar seluruh kepala desa dan dusun yang ada di wilayahnya bis menempelkan nomor-nomor darurat, termasuk Damkar, kepolisian, hingga ambulans di lokasi-lokasi strategis. Dengan begitu masyarakat bisa membuat laporan langsung saat terjadi peristiwa darurat. (yud)