Gorong-Gorong Tersumbat Sampah, Air Kembali Meluap di Senggigi

Sampah yang menumpuk dan menyumbat gorong-gorong di dekat hotel Jayakarta. Kamis (28/10/2021). (Inside Lombok/Istimewa).

Lombok Barat (Inside Lombok) -Saluran air di kawasan wisata Senggigi kembali meluap saat hujan lebat pada Rabu (27/10) lalu. Gorong-gorong yang tersumbat oleh sampah diduga menjadi penyebab luapan air tersebut.

“Bukan banjir sebenarnya, hanya saluran yang di gorong-gorong di sebelah utara Hotel Jayakarta itu mampet,” ujar Camat Batulayar, Afgan Kusumanegara saat dikonfirmasi, Jumat (29/10/2021). Berdasarkan pantauan pihaknya, sampah yang menyumbat gorong-gorong sebagian besar terdiri dari ranting pohon yang berasal dari hulu.

“Memang penyebabnya itu adalah sampah yang datang dari hulu. Terutama adalah sampah ranting pohon, itu yang banyak,” ungkapnya.

Diterangkan, batang pohon bisa tersangkut di gorong-gorong di kawasan tersebut lantaran modelnya yang terbagi dua dengan satu penyekat di bagian tengah. Jika tersumbat oleh ranting, lanjut Afgan, sampah lainnya yang seharusnya bisa mengalir justru menumpuk pada bagian sekat tersebut.

“Nah ini yang menyebabkan persoalan yang sama terus berulang dari waktu ke waktu, di titik gorong-gorong ini,” ketusnya.

Sekitar dua bulan yang lalu pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi NTB disebut Afgan sempat melakukan langkah antisipasi. Antara lain dengan membersihkan gorong-gorong tersebut. Namun ketika hujan deras tiba, nyatanya persoalan sumbatan tetap terulang.

Untuk itu, pihaknya menyarankan agar pihak terkait dapat membuat jaring sampah menggunakan besi. Khususnya di setiap perbatasan dusun yang dilalui aliran sungai tersebut. Hal itu dinilainya dapat menjadi salah satu solusi untuk dapat mengurai sumbatan sampah di satu titik seperti yang terjadi saat ini.

“Jadi sungai ini melintasi enam dusun, mulai dari Dusun Orong (sebagai hulu), dan berakhir di Dusun Tanak Embet Barat yang menjadi hilirnya,” beber dia.

Tidak adanya pembatas yang menyaring sampah di tiap dusun diakui mengakibatkan sampah dari hulu dan dusun-dusun yang dilalui justru menumpuk di dusun yang menjadi hilir. “Tapi bila setiap perbatasan dusun dibuatkan jaring dari besi, maka akan meminimalisir sampah yang hanyut sampai ke hilir,” papar camat Batulayar ini.

Dengan adanya pembatas di tiap dusun, maka dusun terkait dapat membersihkan sampahnya sendiri secara rutin. “Jadi kan sampah-sampah yang menumpuk dan menyumbat ini bisa terpecah di masing-masing dusun, dan tidak hanyut membludak sampai ke hilir,” lanjutnya.

Afgan menyebut pihaknya akan segera mengkoordinasikan hal tersebut. Terutama meminta kejelasan dari instansi instansi terkait untuk meminta solusi jangka panjang. Sementara itu, untuk penanganan sementara pihaknya langsung melakukan pengerukan sampah yang menumpuk dengan meminjam alat berat di dinas PUPR Lobar.

“Airnya sampai tadi pagi memang masih ada yang mengalir di jalan, tapi hanya semata kaki. Instansi terkait juga tetap melanjutkan pengerukan, dan sampahnya diangkut DLH,” pungkas Afgan.

Terpisah, Kadis PUPR Lobar, Made Arthadana mengaku solusi dari persoalan itu memang harus terintegrasi dari hulu hingga hilirnya. Bahkan, dirinya mengaku sebelumnya telah menyiapkan penyaring untuk saluran tersebut. Namun mirisnya, besi penyaring yang disiapkan justru hilang.

Padahal, diakuinya pembuatan jaring besi bisa menjadi solusi untuk masalah tersebut. “Mungkin itu bisa menjadi salah satu solusi. Nanti saya inisiasi untuk rapat dengan Pak Camat dan semua pihak terkait lainnya, termasuk pihak hotel yang terdampak,” ujar Made saat ditemui di ruang kerjanya.

Untuk menangani persoalan tersebut diakuinya memang membutuhkan formula yang tepat. “Saya kira solusi (pembuatan jaring besi) itu bagus. Jadi ketika ada sumbatan di dusun A, luapannya tidak bergulir ke dusun yang lainnya,” tandasnya.