Gubernur NTB Minta Pilkada Jadi Ajang Adu Gagasan Bukan Kebencian

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. H. Zulkieflimansyah. (Inside Lombok/ANTARA/Nur Imansyah).

Mataram (Inside Lombok) – Gubernur Nusa Tenggara Barat, H Zulkieflimansyah mengingatkan kepada bakal calon kepala daerah yang nantinya maju dalam kontestasi Pilkada 2020 untuk menjadikan Pilkada sebagai ajang adu ide dan gagasan, bukan saling menghina dan menebar kebencian.

Hal itu dikatakan Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah saat menyampaikan pidato tahunan pada rapat paripurna DPRD NTB dalam rangka HUT ke-61 NTB di Kata Mataram, Senin.

“Kita ketahui bersama, akan ada tujuh kabupaten/kota yang akan menjalani suksesi kepemimpinan di tahun depan. Suksesi kepemimpinan ini adalah agenda rutin yang kita harapkan akan menjadi medium lahirnya kepemimpinan yang lebih baik bagi NTB. Siapapun yang akan terpilih pada suksesi ini, kita berharap ia merupakan pemimpin yang bisa memajukan daerah yang dipimpinnya,” ujar gubernur.

Menurut Bang Zul sapaan akrabnya, adanya kompetisi yang sehat diantara para kontestan, adalah sebuah kewajaran dalam iklim demokrasi. Sebab, dalam demokrasi, kompetisi memang diperlukan karena adanya Pilkada diyakini akan mendorong pada upaya untuk terus menerus memperbaiki kualitas kepemimpinan di suatu daerah.

Untuk itu, kata dia, pemimpin yang hidup di alam demokrasi, wajib untuk terus menerus melakukan perbaikan demi perbaikan demi mencapai kualitas kepemimpinan yang diharapkan. Dari suksesi yang satu ke suksesi yang lain, ekspektasi pemilih selalu menemukan bentuk barunya. Setiap pemimpin dituntut untuk peka meresapi gejala. baik yang tampak di permukaan maupun yang berdinamika di bawahnya.

“Dalam konteks inilah, pemimpin yang satu dan yang lain dituntut untuk saling adu gagasan, adu program, visi dan misi. Bukannya justru menyemai benih-benih kebencian diantara pendukungnya,” tegas Zilkieflimansyah.

Karena itu, menurut gubernur, dalam persaingan yang saling menghancurkan, sesungguhnya tidak ada pemenang yang dihasilkan.

“Ibarat pepatah, yang menang menjadi arang dan yang kalah menjadi abu. Sungguh sebuah pertarungan yang sia-sia,” ucapnya.

Gubernur menambahkan, dalam suksesi Pilkada nanti, silang pendapat dan ketidaksepahaman pastilah akan mengemuka. Namun, jembatan pengertian dan saling memahami akan tetap terbangun selama pintu komunikasi tetap dibiarkan terbuka.

Untuk itu, kata dia, perbedaan pilihan haruslah dimaknai sebagai cara tuhan untuk memperkaya masyarakat. Bukan sebagai sesuatu yang memantik perseteruan dan kehancuran.

“Kita ingin, kelak Pilkada di tujuh kabupaten/kota akan menghasilkan pemimpin yang mampu merangkul semua pihak. Yang menang, maupun yang kalah,” katanya.

Diketahui Pilkada di NTB akan berlangsung di tujuh kabupaten kota, di antaranya Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu dan Kabupaten Bima. (Ant)