Harga Kerajinan Tembolak Turun, Pengrajin Terpaksa Bertahan Daripada Nganggur

Salah satu pengrajin Tembolak saat ditemui di rumahnya, Sabtu (17/04/2021). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi).

Lombok Timur (Inside Lombok) – Sejak merebaknya Pandemi Covid-19 di Indonesia, tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan saja, akan tetapi pengaruhnya juga sangat besar di sektor ekonomi. Seperti yang dialami para pengrajin tembolak atau tudung saji khas Suku Sasak ini yang semakin hari semakin mengalami penurunan harga, terlebih di masa pandemi.

Seperti yang dituturkan M Nasir, salah seorang pengrajin asal Desa Presak, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lotim. Ia menuturkan bahwa harga kerajinan tembolak kini mengalami penurunan harga menjadi Rp250.000 per kodi atau per 20 biji. Harga tersebut dikatakan lebih rendah dibandingkan harga sebelum pandemi yang mencapai Rp300. 000 – Rp400. 000 per kodinya.

“Harga per kodinya sekarang mengalami penurunan dengan kisaran Rp50 ribu hingga Rp100 ribu,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Sabtu (17/04/2021).

Menurunnya minat masyarakat untuk membeli tembolak khas Suku Sasak di masa pandemi yang disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti tidak adanya acara adat di masa pandemi, acara keagamaan, festival adat dan budaya. Hal tersebut memicu penurunan minat masyarakat di pasaran.

“Sudah harganya turun, lagi di pasar sulit lakunya. Sangat sulit menjajakan tembolak di masa korona ini, semua acara adat istiadat dan agama yang biasa menggunakan tembolak tidak ada yang bisa dilaksanakan,” tutur Nasir.

Di samping sulitnya menjajakan tembolak ini, cara pembuatannya yang rumit dan membutuhkan waktu yang lama sekitar tiga hari untuk membuat satu buah tembolak khas Suku Sasak. Tak hanya pembuatan, bahan utama kerajinan ini yaitu Daun Duntal/Lontar juga sangat susah dicari oleh para pengrajin.

“Dari proses pencarian bahan hingga penjualan saat ini sangat susah. Banyangkan harganya saat ini mencapai Rp15 ribu – Rp20 ribu per biji. Tidak sesuai harga dengan prosesnya,” ucapnya lirih.

Nasri berharap adanya bantuan dari pemerintah, baik itu pemdes, pemda, maupun Pemprov NTB yang berkenan melestarikan anyaman tudung saji tersebut. Terlebih tembolak merupakan salah satu ikon jalan di Kota Mataram, tepatnya di Kawasan Bypass BIL- Gerung.

“Semoga ada bantuan dari pemerintah untuk membantu memasarkan dan bisa menstabilkan harganya,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Presak Muhammad Tahnuji mengatakan bahwa saat ini pihaknya sudah membentuk kelompok pengrajin tembolak agar nantinya hasil kerajinan tersebut akan diajukan kepada Pemerintah Daerah Lotim untuk membantu dalam hal pemasarannya. Terlebih sebagian besar penduduknya merupakan pengrajin tembolak.

“Di sini sekitar 2.000 lebih pengrajin tembolak dari sekitar 3.000 lebih jumlah penduduk kami. Kami akan mencoba koordinasi dengan pemkab dan pemprov untuk membantu pemasaran,” katanya.

Tak hanya itu, pihak Pemdes Presak juga berencana akan memasukkan tembolak tersebut ke pusat oleh-oleh khas Lombok. Sehingga Tahnuji mengharapkan kontribusi dari Dinas Perdagangan.

Bentuk dukungan nyata yang telah dilakukan oleh pemdes setempat, kata Tahnuji yaitu setiap tahunnya para pengerajin diberikan bantuan berupa bahan baku seperti Daun Duntal/ Daun Lontar agar kerajinan tersebut diproduksi dan tetap eksistensi di masa menjamurnya tudung saji plastik di pasaran.

“Setiap tahunnya kita belikan bahan baku daun lontar, kita juga siapkan tempat simpan pinjam untuk pembelian bahan baku melalui BUMDes,”ucapnya