Insentif Pajak Bisa Bantu Pulihkan Industri Pariwisata

38

Mataram (Inside Lombok) – Pelaku usaha hotel dan restoran di NTB berharap program insentif pajak oleh pemerintah kembali diadakan. Pasalnya, program tersebut diakui dapat mempercepat pemulihan kondisi industri pariwisata yang belum benar-benar pulih dari dampak pandemi Covid-19.

“Kita tidak minta, tapi kalau pemerintah inisiatif memberikan (bantuan), ya (dengan program) seperti insentif dengan meringankan pajak P1 atau PPP. Kita juga selaku industri menyambut gembira,” ujar Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), Yono Sulistyo, Senin (24/1).

Menurutnya, ini akan sangat membantu pelaku usaha bertahan. Khususnya untuk memaksimalkan biaya operasional yang dikeluarkan hotel, baik di Kota Mataram maupun kabupaten/kota lainnya di NTB.

Kelanjutan program insentif pajak diakui menjadi keputusan pemerintah. Kendati demikian, jika melihat pergerakan ekonomi maka Kota Mataram adalah salah satu yang tertinggi. Khususnya terlihat dari kenaikan UMKM yang mencapai 10 persen lebih, sementara di kabupaten lain masih di bawah 1 persen.

“Disitu ada formulanya lah kenapa naik sekian persen (di Kota Mataram). Mungkin PAD Kota Mataram meningkat, karena mungkin ekonominya Kota Mataram bagus. Saya lihat Mataram ini sudah berjalan lancar walaupun belum seperti di 2017 – 2019 kemarin,” jelas Yono.

Lain halnya 2020 – 2021 di mana pergerakan ekonomi memang anjlok. Untuk itu, jika pemerintah memberikan lagi insentif pajak bagi pelaku usaha maka diharapkan memberi dampak positif pada pergerakan ekonomi ke depan.

Sebelumnya, Ketua Kehormatan Perhimpunan Hotel Dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, I Gusti Lanang Patra mengatakan industri pariwisata masih membutuhkan diskon pajak, karena tidak bisa pukul rata kondisi seluruhnya. Terlebih tingkat kesulitan dan persoalan yang dihadapi unit usaha berbeda-beda.

Dicontohkan, kondisi industri pariwisata di Gili saja masih belum pulih secara keseluruhan. Bahkan kemungkinan hanya sedikit yang beroperasional. “Ya pilah-pilah lah lihat kondisi masing-masing, tergantung lokasi dan okupansi hotel. Kondisi mereka betul-betul belum bangkit. Gili misalnya biar dipaksa buka, tidak bisa bergerak,” ujarnya. (dpi)