Integrasi Kawasan Industri Halal dengan Pariwisata, Katalisator Pertumbuhan Ekonomi NTB

30
Pengamat Ekonomi dari Universitas Mataram, NTB, Dr Firmansyah. (Inside Lombok/devi)

Mataram (Inside Lombok) – Pertumbuhan ekonomi NTB diyakini bisa tumbuh semakin pesat dengan pembangunan kawasan industri halal yang dicanangkan pemerintah. Namun hal tersebut membutuhkan keseriusan, khususnya dalam penyusunan konsep pengembangan kawasannya.

Tujuannya, agar Halal Industrial Park (HIP) yang saat ini dikerjakan tidak hanya berpusat pada pembangunan, barang dan jasa saja, melainkan dapat terintegrasi dengan sektor lainnya. Mengingat, kontribusi pertumbuhan ekonomi pada industri halal sendiri masih kecil, sehingga butuh dukungan sektor lain.

Pengamat Ekonomi Universitas Mataram (UNRAM), Firmansyah melihat potensi pembangunan kawasan industri halal di NTB tidak akan maksimal memacu pertumbuhan ekonomi NTB. Terutama jika hanya mengandalkan pembangunan industri saja, misalnya fokus pada industri barang dan jasa. Karena itu perlu diintegrasikan dengan sektor pariwisata.

“Industri halal di dunia bukanlah hal yang baru. Bahkan sekarang negara non muslim pun berlomba-lomba dalam bersaing untuk menggaungkan industri wisata halal,” ujar Firmansyah, Senin (23/5).

Integrasi menjadi penting, jika melihat ekonomi NTB saat ini didominasi oleh sektor pariwisata. Dengan demikian pembangunan HIP di NTB yang baru diusung pemerintah daerah diharapkan bisa memiliki jangkauan yang lebih luas.

Artinya, HIP tidak hanya berorientasi pada produksi barang maupun jasa, tetapi juga bisa menjadi pusat kunjungan wisata bagi wisatawan yang datang ke NTB. Ada strategi pengalihan bisnis destinasi wisata, yang selama ini bukan hanya pantai. Namun di kawasan HIP ada juga farming, ada danau buatan yang bisa disinergikan dengan sektor pariwisata.

“Sehingga ada alternatif lain ketika orang berkunjung ke Mandalika, mereka bisa sehari menginap di kawasan industri yang ada konsep ada homestay, modern farm, urban farmingnya,” tuturnya.

Nantinya diharapkan wisatawan bisa melihat aktivitas industri halal di HIP NTB, juga bisa tertarik untuk berinvestasi. Minimal bisa membelanjakan uangnya kepada produk dan jasa yang ditawarkan. “Target pelaku IKM ini bisa naik kelas baik secara skala kuantitas produknya bertambah. Berikut juga skala kualitas produknya meningkat,” terangnya.

Di sisi lain, sejumlah perencanaan pembangunan industri halal oleh pemerintah ini penting juga berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi dan Pemerintah. Terlebih pada pembuatan laboratorium halal sebagai wadah untuk memastikan produk dihasilkan industri halal itu berkualitas dan punya standar tinggi.

“Jadi DUDI (dunia usaha dunia industri) dikeroyok oleh pemerintah dan kampus untuk membesar,” ujarnya. Menurut Firmansyah, jika berbicara soal pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi NTB, jika konsep industri halal dan pariwisata bisa dijalankan beriringan maka optimis akan besar dampaknya. Terlebih dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar. Sebab penyerapan pekerja sejalan dengan besarnya skala bisnis.

“Kalau IKM itu meningkat skala bisnisnya, dia akan memproduksi lebih banyak. Jadi butuh penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak,” ucapnya.

Apalagi jika industri halal bisa diintegrasikan juga dengan perbankan, tentu akan lebih mempermudah dalam penyaluran kredit kepada pelaku usaha IKM. Karena sudah dalam satu kawasan dan satu manajemen. Inilah konsep yang dikedepankan beberapa negara maju, dengan mendorong terbangunnya kawasan industri yang terintegrasi dengan berbagai sektor lainnya.

“NTB ini sebagai panel proyek perlu lah kita evaluasi. Ditawarkan bagaimana industri halal diintegrasikan dengan pariwisata. Di samping pusat produksi juga termasuk pusat kunjungan wisata,” jelasnya. (dpi)