Investor Keluhkan Banyak Kerbau Berkeliaran di Kawasan Selatan Lombok Timur

75
Rapat koordinasi dengan seluruh stakeholders membahas keluhan investor soal kerbau yang berkeliaran di Lombok Timur, Selasa (25/01/2022). (Inside Lombok/Istimewa)

Lombok Timur (Inside Lombok) – Berbagai persoalan dihadapi salah satu investor yang berinvestasi di kawasan selatan Lombok Timur. Salah satunya adalah banyaknya kerbau yang masuk ke kawasan perusahaan hingga membuat investor merugi.

Investor asal Swedia PT. Eco Lombok Solution (ESL), mencatat tak kurang 800 ekor kerbau merumput di lokasi perusahaan milik mereka hingga mengakibatkan kerusakan. Sebelumnya perusahaan tersebut menghabiskan dana tidak kecil untuk membongkar kandang kerbau ilegal di lokasi yang sama.

Menanggapi keluhan investor tersebut, Pemda Lotim menawarkan solusi dengan menyiapkan lahan seluas 10 hektare yang dapat dimanfaatkan masyarakat menggembala kerbau. Dengan begitu kerbau tak lagi masuk ke lingkungan perusahaan, dan kedua belah pihak merasa nyaman dan diperhatikan, baik dari masyarakat maupun investor.

“Kita akan siapkan lahan untuk menggembala seluas 10 hektare, solusi itu juga sudah ditawarkan ke pemilik kerbau dan diterima,” ucap Sekda Lotim, HM Juaini Taufik saat menggelar pertemuan dengan PT. ESL, Pemprov NTB, TNGR dan pemangku kepentingan lainnya, Selasa (25/01).

Namun solusi tersebut juga menemukan kendala. Pasalnya, Pemda Lotim belum menemukan lahan yang cocok untuk para penggembala kerbau sekitar kawasan tersebut. Sehingga diputuskan untuk membuka lahan di luar kawasan hutan Sekaroh, Kecamatan Jerowaru.

“Nanti para penggembala kita arahkan ke sana (luar hutan Sekaroh, Red) yang merupakan cikal-bakal hutan desa,” jelasnya.

Kepala Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Muhammad Nur yang mewakili Pemerintah Provinsi NTB menyebut langkah tersebut akan dipakai untuk sementara waktu. Dikarenakan belum adanya solusi jangka panjang yang menguntungkan bagi semua pihak.

“Ini untuk sementara, sebelum kita menemui solusi jangka panjang,” jelas Nur. Ia juga mengingatkan potensi penggembalaan kerbau dapat dimanfaatkan sebagai salah satu atraksi, dalam upaya pengembangan pariwisata kawasan selatan. “Bagaimanapun mempermudah investasi tidak harus meninggalkan kearifan lokal atau meninggalkan kepentingan pihak lainnya,” tutupnya. (den)