Jalan Rusak Parah Dekat KEK Mandalika: Guru dan Siswa di Desa Mekarsari Sampai Tergelincir Saat Jalan ke Sekolah

Kondisi jalan menuju SD-SMPN Satap 6 Praya Barat Lombok Tengah yang rusak parah. (Inside Lombok/istimewa)

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Siswa dan guru SD-SMPN Satap 6 Praya Barat Lombok Tengah butuh perjuangan ekstra untuk menuju ke sekolah mereka. Bagaimana tidak, jalan yang rusak parah dan berlumpur menunggu mereka setiap harinya. Terlebih masalah jalan rusak tersebut sampai saat belum mendapat sentuhan pemerintah.

Jalan yang merupakan akses utama menuju ke sekolah sangat sulit untuk dilewati karena kondisinya rusak parah. Terlebih pada musim penghujan ini. Seringkali para siswa dan guru tergelincir dan jatuh saat melewati jalan kabupaten yang berada di Desa Mekarsari tersebut.

Ironisnya, jalan tersebut hanya berjarak 23 kilometer dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang selalu digaung-gaungkan pemerintah.

1. Guru Sering Tidak Bisa Mengajar Karena Jalan Rusak

Salah seorang guru SD-SMPN Satap 6 Praya Barat, Ramdhan kepada Inside Lombok menuturkan, para guru seringkali jadi jadi korban tidak bisa mengajar karena jalan rusak yang dilewati begitu menguras energi.

“Akibatnya kita yang mengajar di jam ke 1-2, menjadi korban tidak bisa mengajar. Tak jarang keteteran hingga jam ke 3-4. Karena sampai sekolah tidak langsung ngajar tetapi kipas-kipas dulu, bersih lumpur dulu,” ujarnya.

Dikatakan, saat musim hujan ini, para guru seringkali terjatuh dari motor saat melewati jalan yang menghubungkan Dusun Jangkih Jawe Desa Mangkung dengan Dusun Bangket Molo Desa Mekarsari tersebut.

Padahal, jalan tersebut sudah ditetapkan jadi jalan kabupaten sejak akhir 2019 lalu. Namun, sejak dibuka 24 tahun lalu, kondisi jalan sepanjang 5 kilometer tersebut tidak pernah diperbarui.

2. Tetap Jadi Jalan Utama Walau Rusak

Sementara ini, jalan tersebut masih menjadi pilihan utama para guru dan siswa untuk menuju ke sekolah. Walaupun sebenarnya ada jalan alternatif lain. Namun, kondisinya lebih parah lagi. Karena kondisi jalan alternatif tersebut sangat curam dan terjal.

“Tanjakannya sangat tinggi dan panjang. Dulu pernah dibeton tetapi sekarang telah rusak parah, tersisa pecahan kerikil dan tanah licin. Sehingga jalan ini berbahaya untuk dilalui,” ujarnya.

Selain itu, jembatan penghubungnya telah putus dan sedang dilakukan perbaikan. “Sehingga bukan hanya berbahaya tetapi sama sekali tidak bisa dilewati. Warga juga melewati jalan ini,” jelasnya.

Oleh sebab itu, dia berharap pemerintah daerah bisa segera memperhatikan dan memperbaiki jalan rusak tersebut. Dengan begitu aktivitas masyarakat, termasuk untuk mendapatkan pendidikan bisa berjalan lancar. (irs)