Jumlah Kasus Masih Tinggi, Lotim Ajak Perangi Stunting

Sekda Lotim bersama dengan BKKBN RI saat melaunching Dapur Sehat, Kamis (25/11/2021). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi)

Lombok Timur (Inside Lombok) – Berbagai cara dilakukan Kabupaten Lombok Timur (Lotim) untuk mengatasi stunting. Salah satunya dengan menerapkan Dapur Sehat Atasi Stunting di Kampung KB.

Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim, M Juaini Taofik mengatakan Lotim sampai saat ini menjadi kabupaten terbesar penyumbang angka stunting di NTB. Sehingga upaya menangani stunting diakui perlu menjadi fokus pemerintah, beriringan dengan upaya penanganan pandemi Covid-19.

“Beberapa persoalan yang tentunya menjadi prioritas yang tercantum dalam RPJMD Peningkatan SDM, salah satunya tingginya angka stunting,” ucapnya saat peluncuran Dapur Sehat Atasi Stunting Kampung Sehat di Desa Aikdewa, Kamis (25/11).

Pemkab Lotim mencatat jumlah kasus stunting pada balita di tahun 2021 mencapai 22.527 kasus atau 19,62 persen. Angka tersebut lebih rendah dibanding tahun 2020 lalu yang mencapai 21 persen.

Sementara itu Inspektur BKKBN RI, Ari Dwikora Tono yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan kasus stunting merupakan permasalah yang harus diatasi. Mengingat angka stunting di Indonesia saat ini menjadi salah satu negara dengan penyumbang angka tertinggi di dunia.

“Negara kita masih menjadi salah satu negara penyumbang stunting tertinggi di dunia, dan menjadi ketika di Asean setelah Timor Leste dan Laos,” ujarnya.

Untuk itu Pemerintah Indonesia menargetkan angka stunting pada tahun 2024 mendatang bisa turun menjadi 14 persen. Hal itu akan mampu dicapai jika seluruh elemen dapat saling bahu membahu menurunkan angka stunting di daerahnya.

“Target itu bukanlah hal yang mudah untuk dicapai, tapi juga bukan merupakan hal yang mustahil,” tuturnya.

Desa Aikdewa yang dijadikan sebagai percontohan program tersebut diharapkan dapat memantik desa-desa lain untuk terus berjuang menurunkan stunting. Desa lainya juga diharapkan oleh Sekda Lotim agar belajar ke Aikdewa untuk membuat program tersebut, dikarenakan desa tersebut menjadi salah satu desa yang sukses menurunkan angka stunting. (den)