Kekerasan Perempuan dan Anak di Loteng Masih Tinggi

Ilustrasi kekerasan perempuan dan anak. (Inside Lombok/ dok)

Lombok Tengah (Inside Lombok)- Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) masih tinggi.

Tercatat hingga Juni 2021, jumlahnya sebanyak 28 kasus. Dengan rincian kekerasan terhadap perempuan dewasa sebanyak 15 kasus dan kekerasan terhadap anak sebanyak 13 kasus.

“Kasus ini juga termasuk yang dilaporkan ke kepolisian,”kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Loteng, Lalu Muliardi Yunus, Rabu (25/8/2021) di Kantor Bupati Loteng.

Kekerasan tersebut didominasi oleh kekerasan seksual sebanyak 15 kasus. Lalu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) delapan kasus dan kekerasan fisik sebanyak enam kasus.

Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak ini bisa bertambah karena kemungkinan ada juga kasus yang tidak dilaporkan ke aparat kepolisian dan juga ke DP3AP2KB Loteng.

Adapun tahun 2020 lalu, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak ini mencapai
81 kasus. Di mana kekerasan terhadap perempuan dewasa sebanyak 43 kasus dan kekerasan terhadap anak sebanyak 38 kasus.

Kasus ini juga didominasi oleh kekerasan fisik sebanyak 44 kasus. Kemudian kekerasan seksual sebanyak 31 kasus, kekerasan psikis empat kasus, penelantaran satu kasus dan perdagangan orang satu kasus.

“Penyebab kekerasan ini adalah masalah ekonomi dan juga dampak dari media sosial,”katanya.

Rata-rata kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang tercatat ini diselesaikan di tingkat aparat penegak hukum dan juga Dinas. Namun pada tahun ini, jumlahnya diperkirakan akan berkurang karena kasus ini bisa diselesaikan di tingkat desa setelah terbentuknya Balai Mediasi.

“Tahun ini (kasus) lebih sedikit karena lebih cepat diselesaikan di tingkat desa karena ada Balai Mediasi yang sudah dibentuk,”ujarnya.

Pihaknya tetap melakukan pembinaan kepada masyarakat korban kekerasan tersebut. Selain itu, ada juga beberapa organisasi yang peduli terhadap kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ini yang juga turut berperan di dalam membantu korban.

“Kemudian kita berkoordinasi dengan Toga (tokoh agama) dan Toma (tokoh masyarakat) untuk membantu korban agar tetap aman dan nyaman di tengah masyarakat,”imbuhnya.