Keluarga Mahasiswi Bunuh Diri Klarifikasi Terkait Hasil USG Temuan Polisi

Suasana pembongkaran makam jenazah Linda yang ditemukan tewas tergantung di ventilasi rumah, di TPU Karang Medain, Mataram, NTB, Senin (3/8/2020). (Inside Lombok/ANTARA/Dhimas B.P.)

Mataram (Inside Lombok) – Keluarga Linda Novita Sari, memberikan klarifikasi terkait dokumen hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) tahun 2019 yang kini menjadi kelengkapan bukti kasus kematiannya yang disita penyidik Kepolisian Sektor Ampenan, Nusa Tenggara Barat.

Kakak kandung Linda, Mei Susanti ketika ditemui usai memberikan keterangan di hadapan penyidik Polsek Ampenan, Kota Mataram, Kamis, mengatakan bahwa pihak keluarga sudah lama mengetahui dokumen USG milik Linda.

“Jadi soal USG itu kami dari keluarga sudah tahun sebelumnya, itu ke luar tahun 2019, itu soal penyakit kista-nya,” kata Mei Susanti.

Selain soal USG, Mei dalam kesempatannya juga memberikan klarifikasi terkait kabar Linda yang punya masalah dengan keluarga sebelum akhirnya ditemukan tewas tergantung di ventilasi rumah, kawasan Perumahan Royal Mataram, pada Sabtu (25/7) lalu.

Keterangan itu sebelumnya disampaikan oleh Titi, teman dekat almarhum yang menjadi orang pertama kalinya menemukan jasad Linda tergantung.

“Memang Kamis maghrib (23/7), Ibu terakhir dengan nada keras melalui telepon menanyakan kabarnya dimana, karena belum pulang-pulang, katanya izin cuma sebentar mau ke rumah temannya selesaikan tugas kantor, itu saja, tidak ada masalah lain,” ujarnya.

Bahkan Mei mengatakan bahwa dua hari sebelum hilang kontak sejak Kamis malam (23/8), Linda yang tetap berada di rumah terlihat bahagia karena kabar dirinya yang diterima S2 di Fakultas Hukum, Universitas Mataram.

“Rabu itu Linda di rumah terus. Dia kelihatan ceria sekali karena diterima lanjut S2 itu, tidak ada tampang kalut,” ucap kakak kandung pertama dari almarhum mahasiswi yang masih tercatat sebagai anggota Wapala FH Unram tersebut.

Kemudian ketika Kamis malam (23/7) Mei pulang ke rumah. Mei tidak melihat kendaraan roda dua yang biasa digunakan adik bungsunya itu terparkir di halaman rumah.

“Karena tidak lihat motornya di rumah, saya suruh anak saya untuk tanya kabar dia (Linda) dimana,” ucapnya.

Pesan singkat melalui aplikasi whatsapp itu, jelasnya, hanya terkirim saja. Pesan yang dikirim melalui anaknya itu tidak juga mendapat balasan dari Linda.

“Sampai Jumat pagi (24/7) dia belum juga pulang, karena kita tahu pengumuman itu keluar, kita tanya dia dimana, lewat pesan WA (whatsapp), tapi tidak juga ada balasan,” ujar Mei.

Tidak juga mendapat kabar sejak pamitan terakhir dengan Ibu-nya, pihak keluarga akhirnya dikejutkan dengan kabar duka tentang Linda.

Pihak kepolisian mengabarkan Linda ditemukan dalam kondisi tewas tergantung di ventilasi rumahnya Rio, pria yang kabarnya menjalin hubungan dengan Linda.

Lebih lanjut, terkait dengan keterangannya ke hadapan penyidik kepolisian, Mei diminta untuk menjelaskan keseharian Linda dan pakaian serta barang yang dibawanya ketika keluar dari rumah.

“Keseharian adik saya ini semasa hidup bagaimana, terus siapa teman dia sering main, seputar itu saja,” kata Mei.

Karena itu, Mei rencananya akan kembali memberikan keterangan tambahan. Dengan didampingi Tim Pengacara Montani Para Liberi dari Organisasi Wapala FH Unram, Mei rencananya akan memberikan secara objektif terkait alasan pihak keluarga meminta kepolisian untuk menyelidiki penyebab kematian Linda.

“Karena kita melihat ada yang janggal, jadinya kami meminta polisi untuk menyelidikinya. Kami juga dibantu teman-teman dari Fakultas Hukum Unram untuk mendampingi,” ujarnya.

Dalam temuan pihak keluarga, ada bercak darah yang membekas di sprei ketika jenazah Linda disemayamkan di rumah duka. Bercak darah yang terus keluar dari bagian perut bawahnya dikatakan Mei masih terlihat sampai proses pemakaman.

Bahkan pihak keluarga yang memandikan jenazah Linda, juga melihat ada darah yang diduga keluar dari kelaminnya.

“Lidahnya yang katanya menjulur keluar identik dengan orang gantung diri itu tidak ada, bahkan ustazah yang memandikan jenazahnya sempat menggosokan giginya dengan siwak,” kata Mei.

Sementara, perwakilan dari Tim Pengacara Montani Para Liberi, Muhammad Jihan Febriza yang mendampingi pemeriksaan Mei di Polsek Ampenan menyatakan bahwa pihaknya akan terus mengawal kasus Linda.

Menurut pihaknya, kepolisian harus mengungkap terkait adanya dugaan serangkaian peristiwa yang menyebabkan Linda akhirnya ditemukan tewas tergantung di ventilasi rumah.

“Kami menduga ada peristiwa yang menyebabkan adik kami ini kemudian meninggal dengan posisi tergantung. Jadi kami ingin pihak kepolisian mengungkap penyebabnya kematiannya,” kata Jihan. (Ant)