Kualitas Bagus, Produk Gula Aren NTB Masih Sulit Ekspor

173
Produk gula aren dari UMKM King Aren. (Inside Lombok/Devi)

 

Mataram (Inside Lombok) – Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) gula aren masih kesulitan menembus pasar ekspor. Pasalnya, beberapa kendala masih dihadapi pelaku-pelaku eksportir. Terutama persoalan harga dan minimnya jaringan ke calon pembeli.

“Selama ini ketemu pembeli itu yang dipermasalahkan masalah harga saja, itu paling sering. Karena harga di NTB ini rata-rata tinggi,” ujar pelaku eksportir NTB UMKM King Aren, Muhammad Rizani, Rabu (29/12).

Dikatakannya, harga produk gula aren di NTB memang lebih tinggi dibandingkan beberapa daerah lainya. Mengingat harga bahan bakunya turut dipengaruhi oleh para pengepul air nira untuk produksi minuman keras tradisional seperti tuak.

“Jadi mereka itu bisa berani beli sampai Rp11 ribu, sedangkan kita beli bahan bakunya Rp5 ribu termasuk mahal kalau dibandingkan di Jawa. Kalau di sana itu cuma Rp18 ribu, di sini di petani itu Rp27-30 ribu,” tuturnya.

Padahal, jika dilihat dari sisi kualitas, produksi gula aren di NTB disebutnya jauh lebih baik dibanding dengan daerah-daerah lain. Terlebih dalam pengolahannya produk tersebut tidak menambahkan campuran lain sama sekali.

“Memang dari kualitas kita mumpuni di banding (daerah) luar. Dari luar itu pakai nira kelapa di-mix sama gula pasir. Kalau kita original dari niranya langsung,” ujarnya.

Di sisi lain, akses ekspor para pelaku UMKM atau eksportir NTB harus melalui pelabuhan tanjung perak. Hal tersebut disebut menjadi kendala lain, lantaran jaraknya yang cukup jauh. Padahal di NTB sendiri telah tersedia pelabuhan besar untuk bisa langsung melakukan ekspor.

“Kita jarang sekali ketemu buyer kalau tidak ikut event. Kalau kita yang traking buyernya itu susah, bahkan tidak bisa. Kecuali kalau kita punya jaringan misalnya di kementerian itu baru bisa,” tuturnya. (dpi)