Maskapai Berharap Harga Avtur Merata di Seluruh Bandara

20
Ilustrasi Avtur (Image Source : Tempo.co)

Mataram (Inside Lombok) – Naiknya harga avtur sebagai bahan bakar mau tidak mau mempengaruhi kenaikan harga tiket pesawat. Pihak maskapai pun mengeluhkan kondisi ini, lantaran berpengaruh pada penurunan pengguna transportasi udara. Sehingga harga avtur diharapkan bisa merata di seluruh bandara yang ada.

Head Of Government Relations Air Asia, Eddy Krismeidi Soemawilaga mengatakan saati ini memang harga bahan bakar pesawat naik. Padahal pengeluaran maskapai sekitar 40 persen adalah untuk bahan bakar.

“Kalau bisa harga bahan bakar sama bagi semua bandara, itu sangat membantu. Kalau misalnya untuk membantu seperti sekarang Mandalika sebagai destinasi super prioritas, kalau bisa ada insentif lagi itu bisa membantu banget,” ujar Eddy, Kamis (4/8)

Dicontohkan seperti di 2020, pada Oktober – Desember ada insentif PSC untuk destinasi super prioritas. Jika nanti program serupa diadakan lagi oleh pemerintah, maka harga tiket pesawat diharapkan bisa sedikit turun. “Itu faktor yang mungkin bisa dipertimbangkan, pemberian insentif ke wisatawan terutama daerah destinasi wisata super prioritas,” imbuhnya.

Menurutnya, memang diharapkan ada penyamarataan harga avtur. Karena di Indonesia ini harga bahan bakar setiap bandara berbeda-beda. Contoh di Juni kemarin perbandingan Bandara Lombok dengan bandara di Jakarta memiliki selisih sekitar Rp1.200 per liter

“Itu yang selisih Rp1.200 per liternya saja untuk penerbangan Jakarta Lombok yang perlu 6000 liter, itu sudah berapa (nilainya)? Itu baru satu kali penerbangan, belum kalau kita punya dua kali penerbangan, kali satu bulan, kali satu tahun itu kan sudah signifikan,” jelasnya.

Dikatakan, Kementerian Perhubungan sendiri telah memperbolehkan maskapai melakukan penyesuaian dengan menaikkan harga tiket. Kemudian melihat faktor kompetisi, jika maskapai dengan jumlah penerbangan yang masih banyak harga tiket diakui bisa lebih kompetitif. Sedangkan untuk maskapai lain diakui masih sulit untuk memberi harga murah lantaran menyesuaikan dengan harga bahan bakar.

“Harga avtur tidak bisa dielakkan naik, itu susah banget. Harganya sudah segitu,” katanya.

Di satu sisi hal tersebut banyak membantu maskapai bisa bertahan dan menjalankan usahanya. Terlebih risiko perusahaan untuk bidang penerbangan terbilang tinggi, mengingat banyaknya faktor eksternal yang mempengaruhi.

Faktor eksternal itu dicontohkan Eddy seperti awal pandemi Covid-19 banyak pesawat yang tidak bisa terbang. Kemudian harga bahan bakar naik, sedangkan jumlah penumpang terus menurun. Meski setelah pemulihan pandemi Covid-19 orang mulai kembali bepergian dengan moda transportasi udara, sehingga penurunan penumpang saat ini belum terlihat signifikan.

“Jadi mau tidak mau harga itu pasti seperti itu (naik, red) dan maskapai memang marginnya juga kecil dibanding dengan bisnis lain di luar,” tandasnya. (dpi)