Mayoritas Kematian Ibu dan Bayi di Lotim Terjadi di Rumah Sakit

39
Sekda Lotim saat memimpin rapat koordinasi Tim ACSIA, Rabu (22/09/2021). (Inside Lombok/PKP Setda Lotim).
IMG 20210922 WA0018
Sekda Lotim saat memimpin rapat koordinasi Tim ACSIA, Rabu (22/09/2021). (Inside Lombok/PKP Setda Lotim).

Lombok Timur (Inside Lombok) – Kasus kematian ibu dan bayi di Lombok Timur (Lotim) diduga paling banyak terjadi di rumah sakit. Hal itu menjadi penekanan dari Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim, M Juaini Taofik untuk lebih mengutamakan kecepatan dan ketepatan rujukan di rumah sakit.

“Pasien kerap sudah berada pada kondisi buruk ketika dirujuk. Kondisi itu disebabkan banyak faktor, mulai dari ekonomi hingga sosial psikologis,” ucap Taofik saat Rapat Evaluasi Tim Aksi Cepat Sayang Ibu dan Anak (ACSIA), Rabu (22/09/2021).

Peran dari tim kesehatan ACSIA menjadi sangat penting, utamanya yang ada di tingkat kecamatan dan desa. Untuk itu, Taofik meminta kepada para camat untuk membentuk dan menguatkan tim kesehatan di level Kecamatan.

“Saya berikan waktu hingga akhir Oktober ini Untuk pembentukan Tim ACSIA di kecamatan. Nanti saya akan cek dan camat harus menguatkannya dengan mengeluarkan SK,” pintanya.

Penekanan tersebut disampaikan Taofik dikarenakan masih ada camat yang belum mengeluarkan SK untuk Tim ACSIA. Padahal Tim ACSIA salah satu bentuk perwujudan RPJMD 2018-2023.

Dalam mengurangi risiko kematian ibu dan bayi. Taofik juga mengingatkan untuk lebih mengepektifkan Perdes Pernikahan Usia Anak di seluruh desa.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Lotim, H Pathurrahman mengatakan, dalam menurunkan angka kasus kematian ibu dan bayi harus ada sinergitas semua pihak diberbagai level. Kendati demikian, angka kematian ibu dan bayi di Lotim dalam dua tahun terakhir cenderung meningkat.

“Penguatan sistem rujukan maternal dan neo natal melalui pemenuhan sarana prasarana alat kesehatan juga menjadi faktor pendukung,” jelasnya.