Mengenal PMK, Penyakit Menular pada Sapi yang Disebabkan Virus

24
Sapi yang ada di kandang peternak, Kamis (12/05/2022). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi)

Lombok Timur (Inside Lombok) – Beberapa ekor sapi di wilayah Lotim dilaporkan terserang virus yang menyebabkan adanya penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyakit yang disebabkan infeksi virus ini menjangkiti hewan ternak dengan tingkat kesakitan yang sangat tinggi, antara 90-100 persen. Namun tingkat kematian yang disebabkan sangat kecil, yakni 1-5 persen.

“Gejala PMK ini sendiri mirip dengan penyakit biasa pada hewan ternak sebenarnya, atau biasa dikenal dengan demam tiga hari, tapi kalau PMK ini butuh waktu yang lebih lama sekitar 1 minggu dan menyebabkan keluarnya air liur dan kaki pincang pada sapi,” tutur Dokter Hewan Disnakeswan Lotim, Drh Hultatang di ruangannya, Kamis (12/05).

Gejala penyakit tersebut secara fisik dapat dilihat pada hewan ternak, seperti terjadinya erosi pada seputaran mulut sehingga menyebabkan kelenjar air liur terus keluar dan membuat kaki pincang, serta terjadinya demam.

“Gejalanya masih bisa kita obati. Namun kalau virusnya memang tidak bisa diobati. Tapi kita bisa kurangi gejalanya dengan meningkatkan imun tubuh ternak dengan multivitamin,” katanya.

Penyakit menular pada hewan ternak tersebut ditemukan di Lotim sekitar satu minggu yang lalu di wilayah Aikmel. Namun masih bisa diatasi dengan tingkat kesembuhan mencapai 100 persen.

“Kita sudah turun ke wilayah Aikmel dan rata-rata tingkat kesembuhannya yakni 100 persen, hanya saja jika terjadi penyakit ini maka secepatnya melapor ke Disnakeswan agar cepat kita tangani,” ucapnya.

Diterangkan, meski sapi atau hewan ternak lainnya terserang PMK, dagingnya masih aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Mengingat virus yang menyebabkan PMK masuk dalam kategori Kesmavet yang bisa mati jika daging diolah dengan bersih dan sudah dimasak.

“Jadi itu tidak masalah pada daging maupun produksi lainnya yakni seperti susu dan kulit sapi, semuanya aman dikonsumsi,” jelasnya.

Hultatang meminta agar para peternak agar tidak khawatir dengan kondisi tersebut karena bisa sembuh dalam kurun waktu satu minggu. Langkah pencegahan sendiri dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang dan juga tetap memastikan kesehatan ternak.

“Tugas kita untuk menyadarkan peternak dan juga menyembuhkan ternak dengan meningkatkan imunitasnya dengan cara mengurangi gejalanya,” tutupnya. (den)