NTB Hasilkan Rp110 Miliar dari Ekspor Produk Unggulan, Komoditas Lain Didorong Perbaiki Standar

33
Ilustrasi Ekspor (Image Source : detik.com)

Mataram (Inside Lombok) – Ekspor komoditas unggulan non tambang terus digenjot Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB. Terlebih baru-baru ini ada lima jenis komoditas hasil pertanian dan perikanan yang dikirim ke empat negara berbeda. Adanya lima komoditas ini membuka jalan bagi komoditas unggulan lain di NTB untuk selanjutnya memiliki standar internasional untuk kebutuhan ekspor.

“Saat ini NTB sedang fokus pada pengkajian gula aren untuk memiliki sertifikat organik. Sama seperti vanili dan kopi, inilah beberapa langkah berkaitan dengan standarisasi sehingga secara kualitas dan kuantitas terpenuhi,” ujar Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) NTB, Fathurahman, Jumat (18/11).

Diterangkan Fathur, pihaknya berkomitmen untuk menjembatani dan menghubungkan UMKM bersama pembeli dengan hadir dalam ajang Trade Expo Indonesia (TIE) 2022 di Kota Tangerang pada Oktober lalu. Pada ajang itu NTB menghadirkan produk sate rembiga dan ayam rarang, yang diharapkan masuk pasar ekspor juga.

“Produk tersebut mendapat respon positif, produk kuliner kemasan ini diperuntukkan untuk jemaah-jemaah umrah dan haji dari Indonesia,” terangnya.

Sementara lima komoditas yang sudah diekspor antara lain vanili organik, kopi, sarang walet, rumput laut dan tuna loin. Sedangkan empat negara penerima ekspornya adalah Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura, dan China.

“Tentu ini menjadi penyemangat dan sudah ada varian atau komoditas yang berbeda dari sebelumnya. Dulu hanya kopi, vanili, rumput laut sekarang ada tuna dan sarang burung walet,” tuturnya.

Nilai ekspor dari kelima komoditas itu pun mencapai Rp110,6 miliar. Hal ini menunjukkan NTB berhasil merespon dan menangkap peluang pasar ekspor, khususnya bagi komoditas-komoditas baru untuk menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kita akan terus menggenjot buyer ini agar (ekspor) terus berjalan. Serta mensinergikan dan mengawal dari hulu ke hilir untuk kegiatan ekspor tidak bisa sim-salabim,” jelasnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) NTB, Heru Saptaji menyebutkan keberhasilan ekspor bukan suatu perjalanan yang singkat. Diperlukan upaya pendampingan secara menyeluruh, baik dari sisi hulu sampai ke hilir.

Berbagai intervensi juga dilakukan KPw BI NTB, antara lain dari aspek sarana dan prasarana produksi, green house, pemasaran produk hingga luar negeri, fasilitasi pengiriman sampel produk ke luar negeri, serta berbagai aspek penunjang lainnya.

“Dari berbagai upaya tersebut, antusiasme dan permintaan calon buyer dari luar negeri terhadap komoditas unggulan NTB ternyata sangat tinggi, menunjukkan bahwa kualitas produk yang dimiliki UMKM NTB bisa bersaing di pasar internasional,” ujarnya. (dpi)