Pacu Produksi Kedelai, Petani Akan Diberikan Insentif

31
Ilustrasi panen kedelai (image source: Antara)

Mataram (Inside Lombok) – Produksi tanaman pajale (padi, jagung, kedelai) di NTB ditargetkan mencapai 4,4 juta ton lebih. Namun melihat realisasinya produksi masih jauh dari target. Antara lain padi baru mencapai 52,80 persen, kemudian jagung 75,69 persen dan kedelai dengan capaian paling rendah sekitar 7,66 persen.

“Kedelai realisasi produksinya 3.124 ton atau sebesar 7,66 persen dari target 40.809 ton. Kedelai memang penerima di kita agak sedikit berat, tetapi paling tidak kita terus mensosialisasikan, mengkampanyekan kedelai juga penting sebagai bahan produksi tempe dan tahu,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan perkebunan (Distanbun) NTB, Fathul Gani, Rabu (22/6).

Menurutnya tanaman kedelai ini jangan hanya dilihat dari sisi keuntungannya saja. Tetapi dapat dilihat dari sisa kemanfaatan bagi masyarakat NTB. Terutama untuk memenuhi kebutuhan produksi tahu dan tempe. Apalagi tahu tempe banyak dikonsumsi masyarakat. Mengingat di NTB khususnya Kota Mataram banyak produsen tahu tempe. Sayangnya, mereka lebih banyak menggunakan kedelai impor dibandingkan kedelai lokal.

“Menjaga swasembada pangan ini, kalau beras sama jagung kita tetap optimis surplus. Kalau kedelai emang agak berat. Hanya saja tetap kita fasilitas memberikan kemudahan itu, baik itu dari benih atau bibit,” ungkapnya

Berdasarkan data Distanbun NTB target panen dan realisasi produksi pajale NTB 2022, yakni padi dengan luas panen targetnya 405.644 hektare (Ha) realisasi 227.235 Ha atau 56,02 persen. Dari sisi produksi targetnya 2.185.544 ton baru realisasi 1.153.906 ton atau 52,80 persen.

Kedua ada jagung dengan luas panen yang ditargetkan sebesar 318.847 Ha realisasi 271.147 Ha atau 85,04. Untuk produksi ditarget 2.234.032 ton, realisasi 1.691.004 atau 75,69 persen. Ketiga kedelai luas panen target 28.535 Ha dan realisasi 3.182 Ha 11,15 persen. Di mana produksi targetnya 40.809 ton dengan realisasi 3.124 ton atau 7,66 persen.

Diterangkan, pihaknya akan memberikan insentif tertentu untuk merangsang para petani di NTB agar mau menanam kedelai. “Insentif itu berupa bibit serta penyuluhan yang baik. Memang kalau dari sisi benefit-nya susah bersaing dengan impor, kalau impor harganya lebih murah dan tampilannya bagus,” ujar Fathul.

Sedangkan untuk kedelai lokal diakui dari tampilanya memiliki butiran kecil. Namun tetap perlu didorong agar ditanam sebagai upaya swasembada pangan. Termasuk untuk menjaga ketersediaan bahan baku produksi pada olahan kedelai. (dpi)