Pakaian dan Selimut Jadi Kebutuhan Mendesak Bayi dan Anak-Anak di Pengungsian

Kondisi di salah satu titik pengungsian di Batulayar. Selasa (07/12/2021). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur’ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Sumbangan pakaian menjadi salah satu bantuan yang paling dibutuhkan oleh para pengungsi banjir bandang dan longsor di berbagai titik di kecamatan Batulayar dan Gunungsari, Lombok Barat.

Banyak bayi, balita, anak-anak hingga lansia yang sudah tidak memiliki pakaian yang bisa digunakan. Lantaran, pakaian yang mereka miliki basah dan ikut terseret derasnya arus banjir yang sempat melanda.

Terlebih, banyak anak-anak yang sudah mulai terserang gatal-gatal di pengungsian. Salah satunya Iin, seorang pengungsi di Batulayar Utara, mengaku kebingungan karena sudah tidak memiliki pakaian lain untuk menggantikan pakaian yang dikenakan oleh anaknya yang masih bayi.

“Kita sudah tidak punya baju, baju-baju semua ikut terbawa air sama rumah kita,” tuturnya, sembari menggendong buah hatinya.

Sementara, suasana di lokasi pengungsian menuntut mereka agar sebisa mungkin bisa menggunakan pakaian hangat. Terutama untuk bayi dan balita di sana. Bahkan, untuk popok bayi, diakuinya dia baru menerima hanya dua biji saja.

“Kita berharap ada yang kasih pakaian, kemarin ada yang bilang mau kasih, tapi sampai sekarang belum datang,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh ibu Juma’yah, seorang pengungsi di desa Kekait, Gunungsari. Kata dia, pakaian menjadi salah satu hal yang paling dibutuhkan. Terlebih saat ini banyak warga termasuk anak-anak yang ada di pengungsian mulai mengalami gatal-gatal. Selain karena air yang kurang bersih, tetapi juga karena mereka tidak memiliki pakaian untuk berganti.

“Ini anak-anak apalagi yang bayi, sudah mulai batuk-batuk dan pilek karena udara apalagi malam itu dingin,” bebernya. Sehingga pakaian ganti dan selimut diperlukan untuk warga yang terpaksa harus bertahan di pengungsian. (yud)