Panitia Acara Adat Nyongkolan Akbar Sampaikan Klarifikasi dan Permohonan Maaf

Mataram (Inside Lombok) – Pihak panitia dan Keluarga Besar Kedatuan Pujut Bonjeruk menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf atas pengalihan arus lalu lintas selama acara kegiatan adat Nyongkolan yang berlangsung pada hari Sabtu lalu (22/02/2020).

“Tentu dalam proses adat yang melibatkan puluhan ribu orang itu banyak pihak yang merasa tidak nyaman atau terganggu. Oleh karena itu pihak keluarga Kedatuan Pujut Bonjeruk dengan segala hormat memohon maaf terutama atas pengalihan arus lalu lintas yang menyebabkan waktu yang lebih lama,” ungkap Syaikhuna Raden Tuan Guru Bajang selaku pihak panitia acara, Minggu (23/02/2020).

Di samping itu, pihaknya juga memohon maaf atas terkonsentrasinya massa di jalanan dalam radius sekitar 3 kilometer, penggunaan tetabuhan dan bentuk keramaian lain, terganggunya akses keluar masuk masyarakat sekitar, serta efek lain yang tidak dapat dikondisikan dengan baik.

“Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat. Semoga membawa kebaikan bersama. Amin,” tambahnya.

Bersamaan dengan ini pula, Syaikhuna menjelaskan bahwa kegiatan adat ini ditujukan untuk menunaikan kebaikan berupa tuntunan syariat maupun adat memiliki tertib dan tatanan yang mengikat. Syariat dan adat keduanya ialah sendi kehidupan bermasyarakat tak terkecuali di Suku Sasak.

Ia menambakan bahwa dalam tradisi adat Perkawinan Sasak Adi dikenal sebagai prosesi Begawe adat terutama di kalangan Kedatuan Pujut Bonjeruk. Prosesi Begawe dilakukan dalam 4 tingkatan yakni utame, madye ring utame, madye dan niste. Begawe Utame jarang dilakukan, kecuali oleh para raja dan keturunannya.

Salah satu penanda begawe utame adalah penggunaan Juli sebagai bagian terpenting prosesi. Juli adalah tandu besar menyerupai singgasana keluarga raja yang dibuat khusus dengan ornamen keemasan. Juli itu bukanlah berugak (bale-bale, saung).

“Juli digunakan untuk mengusung penganten dalam begawe Utame. Inilah adat luhur Sasak dari Kedatuan Pujut Bonjeruk. Ini adalah adat nenek moyang Sasak yang jarang dilaksanakan mengingat pelaksananya hanya keluarga raja dan tentu karena mahalnya,” jelas Syaikhuna

Dalam prosesi pernikahan TGH. Lalu Gede Muhammad Khairul Fatihin dan Baiq Yani Permata Sakti ini, masyarakat Sasak disuguhkan khazanah adat yang langka berupa Juli yang diusung oleh ratusan pengampering marga (hulubalang, abdi) raja.

Sebagai bagian dari prosesi nyongkolan (mengiringi pengantin Sasak) yang memang harus berada di jalanan, pihak keluarga telah melakukan koordinasi dengan Polres Lombok Timur dan Polsek setempat sebelum dan selama proses adat berlangsung.

“Polres telah menyampaikan pengumuman dan himbauan dengan media resmi maupun media sosial kepada pengguna jalan maupun masyarakat,” pungkasnya.