Pedagang Keberatan Jual-Beli Minyak Goreng di Pasar Tradisional Harus Pakai PeduliLindungi

36
Ibu Aminah, salah seorang pedagang minyak goreng di pasar Gerung. Rabu (29/06/2022). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Para pedagang di Pasar Gerung, Lombok Barat keberatan dengan kebijakan pemerintah yang akan mengharuskan masyarakat membeli minyak curah menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Kebijakan itu dikhawatirkan justru akan memberatkan pembeli. Sehingga para pedagang pun akan kehilangan pelanggannya.

Di sisi lain, tidak semua masyarakat memahami teknologi, bahkan tidak semua memiliki telepon pintar yang memadai untuk menerapkan aturan tersebut.

“Tahu saya sudah dengar (pembelian minyak curah menggunakan aplikasi), tapi kalau orang yang gak paham sama itu (teknologi) gimana nanti? Mungkin orang-orang berpendidikan saja yang tahu,” ujar Aminah, salah seorang pedagang di Pasar Gerung, Rabu (29/06/2022).

“Yang inak-inak itu mana ngerti yang namanya aplikasi. Jelas kita tidak setuju sekali sama kebijakan itu,” tambahnya. Bahkan sebagai pedagang Aminah mengaku kewalahan, saat hendak membeli minyak goreng minimal 1 kilogram harus menggunakan KTP. Sementara, kondisi saat ini pembeli diakuinya terbilang sepi.

“Apalagi kalau begitu nanti beli pakai aplikasi, semakin sulit rakyat,” keluhnya. Ssistem pembelian yang rumit dikhawatirkan akan semakin berpengaruh pada daya beli masyarakat. Kendati pun, per liternya ia menjual minyak goreng curah dengan kisaran harga Rp15-16 ribu.

“Normalnya harga segitu, sesuai imbauan dari pemerintah harus jual harga segitu. Tidak boleh lebih dari itu,” ungkap dia. Saat ini, Aminah pun masih memiliki banyak stok minyak goreng yang sudah dibelinya sejak tiga minggu lalu. Namun hingga kini masih banyak yang tersisa.

“Sepi (pembeli). Ini saja stok sudah tiga minggu kita ngambil, sampai sekarang masih. Kareena sehari paling yang laku enam pcs,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan Nesi, yang menilai kebijakan pemerintah yang mengharuskan masyarakat untuk menggunakan aplikasi PeduliLindungi saat membeli minyak goreng curah sebagai kebijakan yang kurang etis.

“Ndak etis sih, soalnya kan ndak semua orang punya HP, apalagi aplikasi. Ibu-ibu yang ke pasar mana punya aplikasi,” ketusnya seraya membereskan barang dagangannya.

Menurut dia, masyarakat yang membutuhkan minyak goreng bukan hanya kalangan elit yang paham teknologi. “Masih ndak cocok dah kebijakan itu di sini (Lobar, Red),” tandasnya. (yud)