Pembangunan Bendungan Meninting dan Harapan Warga Terbebas dari Luapan Air

88
Suasana Bendungan Meninting yang tengah dalam pengerjaan (Inside Lombok/Devi)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Sungai Meninting kembali meluap pada Jumat (17/6) lalu. Luapan air pun menggenangi pemukiman warga. Pembangunan Bendungan Meninting pun diharapkan bisa jadi solusi agar masyarakat terhindar dari potensi banjir dan luapan air sungai.

Camat Gunungsari, Muhammad Mudasir mengatakan pada Jumat kemarin wilayahnya mendadak terkena luapan Sungai Meninting. Di mana warga Desa Kekeri, Mambalan melihat arus sungai menderas.

Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, meluapnya aliran Sungai Meninting salah satunya karena Bendungan Meninting masih dalam tahap pembangunan, sehingga belum bisa menahan debit air yang meningkat drastis akibat hujan deras. Luapan itu pun membanjiri desa yang ada di dataran lebih rendah.

“Dari Mambalan, Kekeri, Ranjok, Taman Sari, Midang, Sesela, Jati Sela (air luapan) sempat masuk ke selokan-selokan perkampungan dan area pertanian ada sebagian yang rusak,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya berharap pengerjaan Bendungan Meninting bisa segera selesai. Kendati pengerjaan bendungan itu diprediksi baru selesai 3-4 tahun mendatang, pihaknya berharap ada percepatan. Pasalnya, jika melihat kondisi cuaca yang tidak menentu, pihaknya khawatir sewaktu-waktu Sungai Meninting kembali meluap hingga berdampak pada masyarakat yang ada di daerah di bawah bendungan.

“Harapan kami supaya ada langkah-langkah antisipasi atau tindakan preventif. Ketika hujan tiba-tiba datang, paling tidak ada langkah antisipasi untuk menanggulangi supaya tidak terjadi banjir. Karena kasihan masyarakat yang di bawah ini, mereka trauma sama musibah yang terjadi (akhir) tahun 2021 kemarin,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara 1, Hendra Ahyadi menerangkan progres pembangunan Bendungan Meninting per 15 Juni 2022 baru mencapai 30,28 persen. Dengan rincian untuk pengerjaan main dam baru 16 persen, coffer dam 53 persen dan saluran pengelak 96 persen.

Pembangunan Bendungan Meninting dilakukan pada lahan seluas 90 hektare di Desa Bukit Tinggi Kecamatan Gunungsari Lombok Barat. Proyek itu dikerjakan dengan skema multi years yang dibiayai APBN.

Tahap pertama nilai kontrak Rp 875.249.654.400, nomor kontrak HK.02.03-AS/Kont/SNVT PB NT 1/905/2018. Lelang dimenangkan PT. Hutama Karya (Persero) membuat Kesepakatan Operasional (KSO) dengan PT. Bahagia Bangun Nusa. Sementara tahap kedua, lelang dimenangkan PT. Nindiya Karya (Persero) KSO dengan PT. Sac Nusantara, dengan nilai kontrak Rp 481.334.289.700. Kontrak proyek nomor HK.02.03-AS/Kont/SNVT PB NT 1/906/2018.

Di sisi lain, Hendra membantah meluapnya Sungai Meninting 17 Juni kemarin lantaran kegagalan konstruksi Bendungan Meninting. “Saya menegaskan tidak ada kegagalan pembangunan, jadi bangunan yang dibangun dalam proses pembangunan bendungan meninting ini, itu tidak ada yang seperti tanggul jebol dan lainnya,” tegasnya.

Diakuinya, pada 17 Juni lalu curah hujan memang cukup tinggi sehingga debit air Sungai Meninting ikut meningkat. Bahkan pihaknya yang melakukan pengerjaan Bendungan Meninting ikut terdampak.

Di sisi lain, Hendra meluruskan bahwa pengerjaan Bendungan Meninting sampai saat ini belum memasuki proses penimbunan, melainkan baru penggalian. “Bendungan ini sendiri berfungsi sebagai tampungan, tapi karena memang belum dibuat tampungannya sehingga air yang mengalir itu murni adalah air mengalir dari atas (hutan, Red), dan mengalir ke sungai,” jelasnya.

Hal tersebut juga disebut Hendra turut mempengaruhi daerah hilir, di mana pihaknya menyiapkan penanganan agar peristiwa 6 Desember 2021 lalu tidak terjadi lagi, yaitu banjir besar hingga beberapa perumahan di jalur Sungai Meninting terendam dan Jembatan Meninting jatuh.

“Pada 17 Juni itu tidak ada (banjir besar, Red). Memang betul kemarin ada air yang melimpah di sini (bendungan, Red) ada di dalam video juga ada alat tertinggal, itu alat-alat yang rusak,” ujarnya.

Dikatakan, pihaknya sudah melakukan peringatan dini pada pelaksanaan kegiatan. Sehingga tidak ada petugas yang menjadi korban. Sementara untuk alat yang hanyut memang rusak dan tidak bisa dipindahkan sehingga dibiarkan tergenang.

Ke depan pihaknya berharap semua pihak bisa sama-sama menjaga aliran Sungai Meninting bisa mengalir semestinya. “Jadi misalnya dari masyarakat sendiri aware tidak buang sampah sembarangan, tidak mengotori sungai,” jelas Hendra. (dpi)