Pemkot Mataram Setop Jaringan Wifi Gratis di Ruang Publik

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram I Nyoman Swandiasa. (Foto: Inside Lombok/ANTARA News/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, telah menyetop jaringan wifi gratis di sejumlah ruang publik, untuk menghindari peluang terjadinya penumpukan orang di tengah pandemi COVID-19 di kota itu.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram I Nyoman Swandiasa di Mataram, Kamis mengatakan salah satu ruang publik yang jaringan wifinya disetop adalah di Taman Sangkareang yang menjadi salah satu pusat keramaian di tengah kota.

“Kebijakan ini relevan dengan kembali diterapkannya jam malam, penutupan aktivitas di ruang terbuka hijau (RTH) dan CFD (car free day),” katanya kepada sejumlah wartawan.

Menurutnya, pengetatan kembali aktivitas masyarakat setelah adanya kebijakan adaptasi kebiasan baru dilakukan seiring dengan semakin banyaknya kasus positif baru COVID-19 yang ditemukan dan terindikasi tertular dari ruang publik.

Selain itu Kota Mataram sampai saat ini masih berada pada zona merah COVID-19, dengan jumlah kasus positif COVID-19 secara akumulatif mencapai 733 orang.

Ia mengatakan, data terakhir gugus tugas pada Kamis (16/7-2020) pukul 12.00 Wita, secara kumulatif kasus COVID-19 di Kota Mataram sampai sebanyak 733 orang. Sebanyak 260 orang masih dalam perawatan dan 423 orang dinyatakan sembuh dan 50 orang meninggal dunia.

“Karena itulah, pemerintah kota kembali memperketat pengawasan untuk mencegah terjadinya penularan COVID-19,” katanya.

Karenanya, untuk pengawasan pemerintah kota telah menyiapkan tim terpadu dari Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kota Mataram yang berasal dari berbagai unsur, antara lain, BPBD, TNI/Polri, dan Satpol PP.

“Apabila ditemukan aktivitas masyarakat di atas jam malam mulai pukul 22.00-06.00 Wita, akan dibubarkan,” katanya.

Hal itu dilakukan, ujarnya, dalam rangka melaksanakan upaya antisipasi dan pencegahan penyebaran COVID-19 di Kota Mataram, serta penegakan disiplin masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.

“Yang menjadi tantangan kita saat ini adalah bagaimana masyarakat bisa stay at home dan lockdwon versi adaptasi kebiasan baru sebab masyarakat saat ini sudah menormalkan diri,” katanya menambahkan. (Ant)